Assalaamu'alaikum... SELAMAT DATANG DI KAWASAN PSIKOLOGI. Jalan Kapas No. 9 Kampus I UAD Yogyakarta. Bagi tmn2 yang mau nulis.. kirim aja ke Email: immpsi_uad@yahoo.com "Menolak Tunduk Bangkit Melawan, Maju Bersama IMM atau Mati Demi Islam, Teruslah Berjuang, Senyum Sapa dan Salam"
Rabu, 15 Agustus 2012
Minggu, 01 Juli 2012
IMM Sebagai Gerakan Mahasiswa Islam
Oleh : Deky Pebriansyah
Beribadah. Patuh. Menghamba. Itulah tujuan hakiki Allah menciptakan hamba. Tanpa itu, kehidupan hanya sia-sia, muspra (tak ada nilai). Dalam rangka mengabdi kepada Allah. Ditengah industrialisasi yang terus membahana, atheism juga tak pernah pudar. Bahkan nyaris Allah dilupakan. Banyak oaring berujar, tuahn enggak ada, surge omong kosong, sesudah mati ya udah, tamat. Buat apa ibadah? Itulah keingkaran manusia yang tak kenal Allah.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual seharusnya mampu merasakan kejadian yang nyata namun jarang kita sadari. Kejadian itu berupa semakin edannya zaman sat ini. Memang sangat sedikat yang menyadarinya, namun setidaknya mahasiswa mampu mendeteksi kejadian itu lebih kritis dari kalangan lain. Sebagai mahasiswa Islam kita dituntut untuk mampu bertahan dari tekakan zamn edan seperti sekarang. Ada pun cirri dari zaaman edan yang telah Nampak didepan kita, namun dianggap biasa-biasa saja; Masyarakat Berebut Mengumpilkan Harta.
Kebanyakan dari mahasiswa yang melanjutkan sekolah apabila ditanyakan cita dan tujuan utman dia bersekolah adalah hanya untuk mencari Pekerjaan, dan hal itu menjadi tujuan utama. Sangat sedikit mahasaswa yang berkuliah untuk mencari ilmu sebagai tujuan utamanya. Kalau kita bertanya, apakah yang terjadi pada jiwa mahasiswa, yang 5-7 tahun yang akan datang akan menjadi calon pemimpin baik secara resmi maupun tidak resmi.
Selain pertanda kegilaan zaman pada era sekarang pertanda yang dapat kita lihat dengan nyata adalah orang mencari ilmu dari ahli bid’ah. Kata bid’ah di sini artinya menciptakan hal baru yang tidak ada contohnya sama sekali sebelumnya. Ji bid’ah adalah perbuatan-perbuatan atau kepercayaan yang dianggap menjadi bagian agama padahal sama sekali bukan dari ajaran agama. Bid’ah bias dalam masalah Aqidah, ibadah (syari’at), atau pemikiran.
Bid’ah aqidah yaitu ajaran tentang masalah ketuhanan dan hal-hal gaib yang sama sekali tidak ada dasarnya dari Al-Quran dan Hadits Rasulullah saw. Yang shahih. Contohnya bid’ah ialah kepercayaan bahwa orang yang shalih yang mati dapat menjadi perantara bagi yang hidup untuk menyampaikan hajatnya kepada Allah. Sedangkan Bid’ah ibadah yaitu ibadah yang direkayasa oleh manusia sendiri, tidak ada tuntunan asalnya dari Rasulullah. Contoh bid’ah dalam ibadah yaitu melakukan shalat syukur pada saat memperingatai hari kemerdekaan. Bid’ah pemikiran yaitu pemikiran yang mengubah atau menghapuskan syari’at islam karena dianggap tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman atau perkembangan ilmu pengetahuan.
Pertanda yang paling berbahaya adalah banyaknya penyeruan kesesatan. Baru-baru ini kita tentu tahu dan masih ingat tentang mahasiswa yang hilang dan sulit terlacak bahkan tidak ditemukan sampai sekarang. Ternyata usut demi usut mahasiswa yang hilang tersebut mengikuti suatu gerakan yang ,mengatasnamakan islam, gerakan tersebut menjanjikan janji-janji yang bila dipikirkan lebih matang ajakan tersebut sanag menyimpang dari ajaran aqidah.
Ciri-ciri ajakan atau seruan kesesatan anatara lain:
1. Mengajak memperbaruhi pemahaman islam didasarkan pada tuntutan kemajuan dan perkembangan masyarakat dengan meninggalkan pedoman Sunnah Nabi dan para sahabatnya.
2. Menyebarkan Hadits-hadist palsu walaupun dengan tujuan mendorong orang untuk berbuat baik.
3. Mengajak kepada aliarn atau paham sekuler, seperti kebangsaan, sosialisasi, humanistic, dll.
4. Mengajak mengikuti kepercayaan yang menyalahi aqidah islam.
5. Mengajak melakukan perbuatan bid’ah, seperti peringatan-peringatan hari besar islam diluar hari Idul itri dan Idul Adha.
6. Mengajak kepada ajaran mazhab tertentu, pada hal islam melarang mengikuti madzhab apa pun dalam urusan agama.
7. Mengajak orang kepad pertentangan suku atau golongan atau partai atau bangsa atau strata social atau kasta.
8. Mengajak mengultuskan seseorang atau segolongan oarng, seperti ulam, pemimpin bangsa, pemimpin partai, golongan, dan lain-lain.
Ringkasnya, yang dimaksudkan dengan seruan kesesatan di sini yaitu ajaran yang bertentangan dengan islam yang dibawa masuk ke dalam islam, sehingga merusak ajaran islam yang sebenarnya. Seruan mereka dikatakan sesat karena menyalahi pemahaman yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Kepad para sahabatnya. Merea memahami maksud dari Al-quran yang diwahyukan oleh Allah tidak sesuai dengan yang telah diajarkan rasulullah saw. Kepada para sahabatnya dengan cara yang diridlai oleh Allah swt. Dan diterima secara benar serta diterapkan secara murni.
Selain yang sudah disebutkan di atas saat berkembang berapa aliran penyeru kesesatan antara lain:
1.Rasionalisme
Aliran ini bersifat filsafat politik dan didasarkan pada penasiran dan pemikiran yang bersumber pada tatanan social. Aliran ini melihat persoalan agama sebagai bagian dari produk sosila yang mendorong manusia buntuk mengatur tingkah lakunya sedemikian rupa guna mencapai kepentingan hidup. Aliran Rasionalisme kemudian melahirkan berbagai macam isme, seperti kapitalisme, soisialisme, komunisme, dan Demokrasi.
2. Reformis
Reformis yaitu goplongan yang beranggapan bahwa segala ketentuan syari’at islam harus tunduk pada perubahan zaman. Bila suatu zaman menghendaki pemahaman baru tentang ajaran-ajaran islam yang sudah baku, mereka pun mengubah ketentuan syari’at tersebut sesuai dengan tentuan zaman. Aliran ini telah menempatkan masyarakat sebagai penentu benar salahnya suatu ketentuan yang ada dalam agama Allah swt. Mereka tidak menjadikan Allah sebagai penentu hukum mutlak bagio kehidupan manusia tetapi masyarakatlah yang menjadi Tuhan bagi dirinya srendiri dalam menentukan aturan yang dibutuhkannya.
Termasuk golongan reformis adalah mereka yang mengubah pembagian waris untuk perempuan dan laki-laki yang telah ditetapkan 1 : 2 menjadi 1 : 1, karena perubahan tatanan sosial ekonomi di suatu masyarakat. Menurut mereka, bila dalam suatu masyarakat warga peremuannya bekerja dan tidak lagi mengandalkan nakah sehari-hari pada kaum laki-laki, ketentuan waris yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an tidak berlaku lagi. Bagi mereka yang pokok adalah keadaan riil masyarakat, bukan ketentuan dasar yang ada dalam syari’at harus berubah sesuai dengan tuntutan perubahan kondisi riil dalam masyarakat.
Menghadapi semakin banyaknya penyeru kesesatan,Rasulullah saw. Memperingatkan kepada seliruh kaum muslim agar tetap teguh berada pada barisan umat islam dan pemimpin atau imam yang teguh menjalankan Islam secara murni. Jika ternyata sudah tidak ada lagi imam yang menjadi anutan umat Islam karena hilangnya kekuasaan Islam di dunia ini, Rasulullah saw. memerintahkan kepada kita untuk meninggalkan golongan-golongan yang berpecah-belah dengan berbagai macam aliran. Kita harus tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah saw. yang shahih, serta tuntutan yang dipegang oleh para sahabat beliau, sekalipun harus menggigit akar pohon sampai mati dalam keadaan demikian.
Dari berbagai bukti-bukti diatas, sudah seharusnya mahasiswa mampu bertindak untuk membetulkan apa yang salah. IMM merupakan suata gerakan kemahasiswaan yang bergerak di tiga factor penting, Religi, masyarakat, dan Intelektual yang apabila kita sebagai mahasiswa islam mampu mengaplikasikan secara tepat dimasyarakat tentu akan menjadi hal yang sangat luar biasa untuk mengatasi edannya zaman sekarang.
Namun gerakan mahasiswa haruslah mempunyai ideologi yang pasti. Menurut Haedar Nashir dalam bukunya Kristalisasi Ideologi dan Kotmitmen Bermuhammdiyah. Dalam bukunya Beliau menerangkan Ideologi adalah ajaran atau ilmu pengetahuan yang secara sistematis dan menyeluruh membahas mengenai gagasan, cara-cara, angan-angan atau gambaran dalam pikiran, untuk mendapatkan keyakinan mengenai hidup dan kehidupan yang benar dan tepat. Dan dijelaskan lebih sempit Ideologi Muhammadiyah adalah system keyakinan, cita-cita,, dan perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan islam dalam mewujudkan masyarakat islam yang sebenarnya. Adapun isi atau kandungan ideology Muhammdiyah tersebut ialah;
1. Paham Islam atau paham agama dalam Muhammadiyah,
2. Hakikat Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, dan
3. Misi dan strategi perjuangan Muhammdiyah.
Mari kita menjadi Mahasiswa yang mempunyai tujuan dan sistim Gerakan yang benar dan tepat untuk dunia dan akhirat kita. Wassalam…
Datar Pustaka
Azhar. Muhammad, Goresan Kata Motivasi Islami, Solo. Penerbit: Taqwa Media, 2010.
Thalib. Muhammad, 25 Ciri Zaman Edan dan 20 Cara Menghadapinya, Bandung, Penerbit: Irsad Baitus Salam, 2000.
Nashir. Headar, Kristalisasi Ideologi & Komitmen Bermuhammadiyah, Yogyakarta. Penerbit: Suara Muhammadiyah, 2007.
Sabtu, 14 April 2012
AMAL USAHA MUHAMMADIYAH
AMAL USAHA MUHAMMADIYAH
Maksud dan Tujuan Serta Usaha
Pasal 6
Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pasal 7
Usaha
1. Untuk mencapai maksud dan tujuan, Muhammadiyah melaksanakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan.
2. Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan, yang macam dan penyelenggaraannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
3.Penentu kebijakan dan penanggungjawab amal usaha, program, dan kegiatan adalah Pimpinan Muhammadiyah.
Pasal 3
Usaha
Usaha Muhammadiyah yang diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan meliputi :
1. Menanamkan keyakinan, memperdalam dan
memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan,
serta Menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai
aspek kehidupan.
2. Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran
Islamdalam berbagai aspek kehidupan untuk
mendapatkan
kemurnian dan kebenarannya.
3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak,
wakaf, shadaqah, hibah, dan amal shalih lainnya.
4. Meningkatkan harkat, martabat, dan kualitas
sumberdaya manusia agar berkemampuan tinggi serta
berakhlaq mulia.
5. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan
kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni, serta meningkatkan penelitian.
6. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan ke arah
perbaikan hidup yang berkualitas.
7. Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat.
8.Memelihara, mengembangkan, dan mendayagunakan
sumberdaya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan
9. Mengembangkan komunikasi, ukhuwah, dan
kerjasama dalam berbagai bidang dan kalangan
masyarakat dalam dan luar negeri.
10. Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
11. Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas
anggota sebagai pelaku gerakan.
12. Mengembangkan sarana, prasarana, dan sumber dana
untuk mensukseskan gerakan.
13. Mengupayakan penegakan huku, keadilan,dan
kebenaran serta meningkatkan pembelaan terhadap
masyarakat.
14. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan
tujuan Muhammadiyah
Pasal 19
Unsur Pembantu Pimpinan
1. Pengertian dan Pembentukan Unsur Pembantu Pimpinan:
a. Majelis :
1. Majelis bertugas menyelenggarakan amal usaha,
program, dan kegiatan pokok dalam bidang tertentu
2. Majelis dibentuk oleh Pimpinan Pusat, Pimpinan
Wilayah, Pimpinan Daerah, dan Pimpinan Cabang
di tingkat masing-masing sesuai dengan kebutuhan
b. Lembaga :
1. Lembaga bertugas melaksanakan program dan
kegiatan pendukung yang bersifat khusus.
2. Lembaga dibentuk oleh Pimpinan Pusat di tingkat
pusat.
3. Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah, apabila
dipandang perlu, dapat membentuk lembaga
tertentu di tingkat masing-masing dengan
persetujuan Pimpinan Muhammadiyah setingkat di
atasnya.
MAJELIS DAN LEMBAGA
Majelis al:
• Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus
• Majelis Tarjih dan Tajdid
• Majelis Pendidikan Tinggi
• Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
• Majelis Pendidikan Kader
• Majelis Kesehatan
• Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
• Majelis Ekonomi
LEMBAGA
1. Lembaga Hikmah dan Studi Kemasyarakatan
2. Lembaga Seni dan Budaya
3. Lembaga Pemberdayaan Supremasi Hukum dan HAM
4. Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah
DASAR DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH
Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju tujuan terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang
diridlai Allah SwT, di mana kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan luas merata, Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu:
1. Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah, dan ta’at kepada Allah.
2. Hidup manusia bermasyarakat
3. Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan keyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia akhirat.
4. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai
ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada
kemanusiaan.
5. Ittiba’ kepada langkah perjuangan Nabi
Muhammad
6. Melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan
ketertiban organisasi.
PEDOMAN AMAL USAHA DAN PERJUANGAN MUHAMMADIYAH
Menilik dasar prinsip tersebut di atas, maka apapun yang diusahakan dan bagaimanapun cara perjuangan Muhammadiyah untuk mencapai tujuan tunggalnya, harus berpedoman: “Berpegang teguh akan ajaran Allah dan Rasul-nya, bergerak membangun di segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah”.
Senin, 02 April 2012
SEJARAH KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM
KRONOLOGI KEMUNDURAN ISLAM
1. Sketsa Kemunduran Islam
Seperti banyak diketahui, bahwa Islam merupakan jembatan emas bagi kemajuan Barat saat ini. Islam memberi sumbangan ilmu pengetahuan yang tak ternilai bagi Barat. Namun pada gilirannya kaum Nasrani dapat merebut pengetahuan yang berharga tersebut. Pada masa akhir kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol) tepatnya pada tahun 609 H/1212 M, Kaum Nasrani melakukan agresi besar-besaran ke Andalusia. Dengan dalih perang suci di Eropa mereka menyerang Islam dipimpin oleh Alfonso VII , Raja Castile beserta sekutu-sekutunya. Serangan tersebut dihadapi oleh khalifah al-Mansur Billah bersama 600000 tentara di Las Navas de Toloso (Al ‘Uqub) sekitar 70 mil di sebelah timur Cordova.
Dalam peperangan tersebut tentara Muwahidun mengalami kekalahan besar bahkan menyebabkan berakhirya kekuasaan Islam di Andalusia(1235 M). Berakhirnya Islam puncaknya ketika peperangan antara pasukan Musa, Pasukan Abdullah melawan pasukan Ferdinand, Ferdinand mengirim pasukannya untuk menghancurkan pasukan Islam, tetapi Abdullah beserta pasukannya terjun ke medan peperangan dengan gagah berani,pada saat itu islam yang mengalami kemenangan dibantu oleh penduduk Granada, sehingga beberapa beneteng dapat direbut kembali
Pada tahun 896 H/1491 M Ferdinand bersama Isabella melibatkan diri bersama 50.000 personil dengan mendengungkan perang suci. Namun pasukan Musa mendengungkan bahwa akan terus mempertahankan tanah ini walau hanya tinggal jasad saja , hal itu membuat semangat tempur pasukan islam, dan mengalahkan pasukan Ferdinand. Namun dengan kelicikannya, Ferdinand mengepung dan memblokade pasukan islam agar kelaparan. Apalagi di musim dingin (salju), sehingga keadaan kaum muslimin menjadi kritis. Abdullah menyerang atas desakan penduduk Granada yang kelaparan dan kedinginan. Sedangkan panglima Musa terus menyerang dan melawan pasukan ferdinand, sehingga mati terbunuh dalam medan peperangan. Abdullah bersama keluarganya pindah ke Maroko dan tinggal di kota Faz. Granada pada tanggal 2 Januari 1492 M dapat dikuasai kaum Nasrani dengan masuknya pasukan Castile . Dengan masuknya pasukan Castile . Dengan demikian, Salib telah menyingkirkan bulan Sabit.
2. Agresi Kolonial Barat
Masa ini dimulai pada abad ke-19 ketika Eropa mendominasi dunia. Dalam abad ke 19 dan awal abad 20 , didorong oleh kebutuhan ekonomi industri terhadap bahan-bahan baku dan pemasarannya , dan juga oleh kompetisi politik ekonomi satu sama lain, negara-negara Eropa menegakkan kerajaan teroterial dunia. Belanda menjajah Indonesia; Rusia mengambil Asia Dalam; Inggris mengkonsolidasi kerajaan mereka di India dan Afrika, dan mengontrol sebagian Timur tengah, Afrika Timur, Nigeria, dan sebagian Afrika Barat.
Pada permulaan abad ke-20 kekuatan Eropa hampir menguasai seluruh dunia Islam . Dengan didukung oleh pertumbuhan produksi pabrik dalam skala dan perubahan yang besar serta dengan metode komunikasi ditandai dengan ditemukannya kapal uap, kereta api, dan telegrap. Eropa telah siap untuk melakukan ekspansi perdagangan. Kesemuanya ini diiringi dengan peningkatan kekuatan angkatan bersenjata dari negara-negara besar Eropa; akibatnya Aljazair menjadi negara Arab pertama yang ditaklukkan oleh perancis (1830-1847 M). Negeri-negeri Islam dan masyarakatnya pada waktu itu tidak lengkap lagi hidup dalam keadaan stabil serta tidak mapan sistem kebudayaannya sehingga keperluan mereka yang mendesak adalah bagaimana menggerakkan kekuatan agar selamat dari dominasi bangsa lain.Kerajaan Utsmaniyah misalnya, harus mengadopsi metode-metode baru dalam pengorganisasian militer, administrasi dan kode-kode hukum pola Eropa, dan begitu juga yang dilakukan oleh dua penguasa otonomi dari propinsi kerajaan tersebut, Mesir dan Tunisia .
Begitu seterusnya agresi kolonial barat yang meyebabkan perubahan demi perubahan dalam kejayaan Islam , banyak yang ternetralisir dengan sistem kebudayaan barat.
3. Penetrasi Barat Terhadap Dunia Islam
Pengaruh Eropa terhadap dunia Islam menyadarkan para pemimpin kerajaan Utsmaniyah untuk mengadakan perubahan . Begitu pun pada masa Sultan Mahmud II padatahun 1820-an, sejumlah kecil para pejabat yang menyadari perlu adanya perubahan mengambil keputusan – keputusan yang cukup penting.
Di Kairo, sepeninggal tentara Perancis, kekuasaan diambillah oleh Muhammad Ali (1805-48), orang Turki dari Macedonia yang dikirim oleh kerajaan Utsmaniyah melawan Perancis . Dari uraian-uraian di atas, dapat ditarik gambaran bahwa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dunia Islam hampir seluruhnya berada dalam koloni barat , kecuali Hijaz , Persia, dan Afghanistan . Dunia Islam lainnya yang membentang dari Maroko hingga Indonesia merupakan negeri-negeri kolonial yang dijadikan “sapi perahan” untuk kemakmurann bangsa barat.
Apabila kita menyimak secara seksama tentang faktor-faktor yang mendorong kemajuan umat Islam di masa lalu, maka kita akan sepakat bahwa faktor-faktor tersebut kini mulai sirna dan tidak melekat lagi pada umat Islam, tinggal puing-puingnya saja, dan hanya menjadi kenangan sejarah masa lalu.
FAKTOR PENYEBAB KEMUNDURAN ISLAM
Setelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kekuatan, kemungkinan dan tantangan (SWOT).
Kemunduran suatu peradaban tidak dapat dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistemik, maka jatuh bangunnya suatu perdaban juga bersifat sistemik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya – yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal – berkaitan erat sekali. Untuk itu, akan dipaparkan faktor-faktor ekternal terlebih dahulu dan kemudian faktor internalnya.
Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hassan yang secara khusus menyoroti kasus kekhalifahan Turkey Uthmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hingga abad ke 20.
Faktor-faktor tersebut adalah sbb:
1. Faktor ekologis dan alami
Kondisi tanah di mana negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang, sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu. Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan Tigris. Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam. Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak luar.
2. Faktor eksternal.
Faktor eksternal yang berperan dalam kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. “Perang Salib”, menurut Bernard Lewis, “pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.” Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm, dilanjutkan ke Persia (1220-1221). Pada tahun 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.
3. Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat
Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara Islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan jumlah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi.
Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman Barat. Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika. Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.
Itulah di antara faktor-faktor eksternal yang dapat diamati. Namun analisa al-Hassan di atas berbeda dari analisa Ibn Khaldun. Bagi Ibn Khaldun justru letak geografis dan kondisi ekologis negara-negara Islam merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah antara zone panas dan dingin sangat menguntungkan. Di dalam zone inilah peradaban besar lahir dan bertahan lama, termasuk Islam yang bertahan hingga 700 tahun, India, China, Mesir dll. Menurut Ibn Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:
Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.
Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan:
…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang…. jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak, dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.
Pada Intinya, dalam pandangan Ibn Khaldun, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Contoh yang nyata adalah pengamatannya terhadap peradaban Islam di Andalusia. Disana merosotnya moralitas penguasa diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan keperdulian masyarakat terhadap ilmu, dan bahkan berakhir dengan hilangnya kegiatan keilmuan.
Di Baghdad keperdulian al-Ma’mun, pendukung Mu’tazilah dan al-Mutawakkil pendukung Ash’ariyyah merupakan kunci bagi keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan saat itu.
Jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibn Khaldun ada 10, yaitu:
1) Rusaknya moralitas penguasa
2)Penindasan penguasa & ketidak adilan
3) Despotisme atau kezaliman
4) Orientasi kemewahan masyarakat
5) Egoisme
6) Opportunisme
7) Penarikan pajak secara berlebihan
8) Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat
9) Rendahnya peran masyarakat terhadap agama
10) Penggunaan pena & pedang secara tidak tepat.
Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya “ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan.” Namun dalam kasus jatuhnya Baghdad, Basra dan Kufah ia tidak menyatakan bahwa sains dan kegiatan saintifik berhenti atau menurun, tapi berpindah ke bagian Timur kekhalifahan Baghdad, yaitu Khurasan dan Transoxania.
KEMUNDURAN ISLAM ERA SEKARANG
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab kemunduran dan kemerosotan umat Islam pada era sekarang yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli. Di antaranya Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Limadzaa Ta’akkhara al-Muslimuuna Wa Limaadzaa Taqaddama al-Ghayruuna. Dengan tegas beliau mengemukakan beberapa faktor penyebab yang terbesar dan terpenting sebagai faktor kemunduran umat Islam, yaitu:
1. Kebodohan
Kebodohan inilah yang menyebabkan umat Islam mudah sekali dibohongi dan diombang-ambingkan, sebab tidak bisa membedakan mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan
2. Kerusakan Budi Pekerti
Umat Islam telah kehilangan perangai sebagaimana yang telah diperintahkan oleh al-Qur’an, meninggalkan akhlaq mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta salaf al-Shalihin. Budi pekerti mulia sungguh sangat besar peranannya dalam rangka membangun umat dan bangsa. Dalam pada itu, Syauki Beik telah mengingatkan: ”sesungguhnya umat-umat itu tidak lain melainkan budi pekerti. Selama budi pekerti itu tetap ada pada sebuah umat maka umat itu tetap ada, dan jika budi pekerti itu lenyap maka mereka pun ikut lenyap.”
3. Kebejatan Moral dan kerusakan budi pekerti para pemimpinnya.
Munculnya pemimpin diktator dan otoriter yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat dan mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyat dan menumpas golongan/ kelompok yang ingin meluruskan perbuatan mereka
4. Sikap penakut dan pengecut
Dahulu, umat Islam terkenal sebagai umat pemberani, dapat mengalahkan musuh yang berlipat ganda jumlahnya. Namun sekarang, uamt Islam dilandasi rasa takut, dan rasa takut itulah yang menyebabkan umat Islam menjadi penakut dan pengecut.
Menurut Lotrop Stodart dalam bukunya ”the New World of Islam” telah mengemukakan beberapa faktor penyebab kemunduran umat Islam yang secara ringkas dapat diurai berikut ini:
a. Kambuhnya rasa permusuhan di kalangan umat Islam;
b. Rusaknya ajaran Islam, akibatr dari bermacam-macam penafsiran yang menyimpang sari esensi ajaran Islam
c. Sikap jumud/beku yang dialamai umat Islam, dengan menyelubungi ketauhidan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan khurafat dan faham kesufian
d. Merosotnya akhlak dan kehormatan diri.
Dalam kenyataan yang ada pada saat ini, kita lihat dan rasakan upaya-upaya untuk memundurkan umat Islam yang dilakukan dengan serius dan sistematik, yaitu di antaranya dengan jalan:
1. Menjauhkan umat Islam dari al-Qur’an
2. Menghancurkan akhlak umat Islam
3. Memecah belah persatuan & kesatuan umat Islam
4. Menanamkan keraguan terhadap ajaran Islam
5.Merintangi kemajuan umat Islam.
Hal-hal di atas merupakan faktor-faktor penyebab bagi kemunduran umat Islam menurut beberapa ahli yang akibatnya umat Islam diremehkan dan tidak lagi disegani oleh umat lain. Umat Islam menduduki peringkat bawah dan hanya sebagai pengikut, bukan sebagai pemimpin, sehingga mudah sekali dikendalikan dan diombang-ambingkan, dan pada gilirannya satu sama lain mudah diadu domba. Inilah yang mengakibatkan umat Islam berantakan, tidak sempat mengejar ketertinggalan.
Rabu, 23 Februari 2011
Islam di Indonesia dari Masa Kolonial hingga Reformasi
Indonesia memang mendapat sorotan negara lain karena keunikannya, sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar memiliki model keberagaman tersendiri dengan mengawinkan budaya budaya lokalnya dengan substansi Islam itu sendiri. Islam Indonesia, memang sudah menjadi perhatian dunia, entah dalam rangka kepentingan kolonial, akademik, budaya maupun politik.
Islam di Indonesia pada masa kolonial Melihat periode ini sangatlah panjang. Namun, periode-periode ini bisa dilihat sebagai titik awal identitas Islam di Indonesia. Hal ini karena masuknya Islam di Indonesia yang ditandai dengan akulturasi budaya yang sangat kental, berjalan lancar dan tidak mengagetkan keberagamaan awal penduduknya.
Islam melebur dengan budaya lokal, menangkap spirit penyebaran agama yang harus disampaikan tanpa kekerasan. Tak ada kafiyeh, jilbab, masjid berkubah layaknya di Timur Tengah, kalaupun ada itu dalam hitungan angka. Banyak kalangan dalam dan luar mengakui keberhasilan ini, lepas dari perdebatan apakah Islam dibawa oleh pedagang Gujarat atau dari orang- langsung. Dari sinilah, citra Islam Arab tidak nampak di Indonesia, abad belakangan barulah nampak identitas Arab itu, lagi-lagi bukan dalam jumlah yang mayoritas.
Sementara itu, ketaatan kepada pemimpin atau pemuka agama yang nyaris tanpa reserve menjadi gambaran umum di banyak tempat. Hal ini malah menjadi kekuatan tersendiri di masa lampau. Masa kolonial Belanda misalnya, mengabadikan nama Snouck Hurgronje sebagai penasehat ulung pemerintahannya. Resistensi Muslim Aceh memang menjadi pekerjaan besar tersendiri bagi kolonial. Strategi inilah yang kemudian mengantarkan Snouck sampai di Tanah suci dan rahasia kekuatan Aceh terkuak, dan Aceh menjadi daerah di Indonesia yang paling akhir ditaklukan. Peristiwa ini kemudian menjadi sejarah penting bagaimana satu dari banyak tipologi Islam di Indonesia “ dimanfaatkan ” oleh dunia luar.
Selain gambaran politik Islam dan kolonial di masa itu, proses penyebaran Islam di Nusantara yang memang tidak persis seiring waktu dan tempat dengan kolonialisasi juga menarik dikemukakan. Pertama, sebagaimana dijelaskan di atas, akulturasi dan asimilasi budaya telah membentuk identitas Islam Indonesia sebagai agama pendatang. Identitas yang banyak disemangati oleh nilai toleransi itu telah membuat konfigurasi “anyar” antara agama yang datang dari Timur Tengah dan agama yang tunduk pada original culture menafikan substansi pesan “ langit ” agama itu. Kedua, meski kemudian menjadi agama mayoritas, Islam tidak menjadi dominan di seluruh area Indonesia, banyak daerah menjadi konsentrasi agama-agama tertentu, misalnya; Manado untuk Kristen, Bali untuk Hindu dsb. Fenomena ini sesungguhnya mengajarkan, bahwa di antara yang berbeda, tetap ada harmoni, dan untuk melawan kekerasan atas nama agama, kuncinya terletak pada toleransi, seperti di masa lalu, sesuatu yang sangat sulit kita temukan pada masa sekarang. Selain hal-hal di atas, masih banyak contoh lain di masa lalu yang menjadi fondamen warna Islam di Indonesia.
v Masa Kemerdekaan: Islam versus Komunis =Islam Komunis?
Yang menarik dari Islam masa ini adalah, era di mana gerakan komunis mulai mendapat momentumnya. Ketika ramai-ramai orang mempersepsikan komunis setali tiga uang dengan atheisme, komunisme di Indonesia malah berinteraksi secara baik-baik dengan kaum muslim. Kenapa? Karena komunisme adalah gerakan, bukan dimaknai sebagai ideologi an sich, ia bisa dijadikan model gerakan untuk memperbaiki ketidakberdayaan masyarakat, yang memang menjadi kondisi nyata bangsa Indonesia waktu itu.
Presiden Soekarno sendiri memaklumatkan ideologi Nasakom, yang sama sekali bukan sebagai relasi agama vis-a-vis komunisme tapi lebih sebagai perlawanan mengguritanya kapitalisme dan Soekarno merasa harus menemukan formula yang tepat mengatasi situasi keterpurukan ekonomi bangsa, belum stabilnya politik negara. Meski untuk itu, perkawanannya dengan negara-negara tetangga yang menjadikan komunis sebagai poros, barangkali banyak mengilhami pemikiran Soekarno dalam melihat persoalan di Indonesia.
Meski dunia lebih mencatat komunis di Indonesia sebagai gerakan kudeta, namun sebenarnya internalisasi nilai-nilai komunis dalam Islam menarik untuk ditelusuri. Beberapa dari mereka malah mencari titik persamaan antara keduanya, sebagai sesuatu yang oleh publik diantagoniskan, misalnya; keberpihakan terhadap yang lemah dan cita-cita mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
v Islam di Indonesia pada Masa Orde Baru
Tesa Clifford Gertz tentang kategori tiga muslim sebagai santri, abangan priyayi sebenarnya sudah lama terbantahkan. Meski analisanya tak sepenuhnya sahih, Gertz sesungguhnya telah melihat praktek-praktek keagamaan model masyarakat Jawa dibandingkan dengan konsep agamanya yang genuine. abangan, bisa dikatakan bahwa ada proses konversi yang tidak lengkap. Dalam waktu yang lama misalnya, orang-orang Jawa masih memelihara praktek tradisi Hindu dan menggunakan Islam dan Syariahnya hanya sebagai bungkus atau petunjuk formal dan wadah bagi kehidupan spiritual.
Pada era Soeharto, performance Islam Indonesia sebenarnya justru lebih pada kecurigaan kelompok-kelompok, pencatatan setiap pertemuan publik yang bersifat keagamaan, pembubaran organisasi yang dianggap menggerogoti Pancasila dan tindakan subversif.
Baru pada era 90-an Islam nampaknya menemukan momentum gerakannya. Ini misalnya ditandai dengan lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di tahun 1992, greening birokrasi meminjam istilah Hefner dalam “ Civil Islam ” menjadi gairah baru kehidupan muslim di Indonesia. Sejak itu, atribut-atribut Islam pengamat lebih sering menyebutnya sebagai simbol menjadi warna keseharian kehidupan muslim.
Pilihan memakai busana muslimah, misalnya, sudah menjadi bagian dari kehidupan publik, dan fenomena tidak hanya terjadi di ICMI, namun seiring menguatnya gerakan tarbiyah Islam dari kaum urban. Gerakan ini, terutama dimotori kaum muda dari universitas-universitas umum.
Mereka menginginkan kehidupan yang khuysuk dengan menerapkan ajaran yang fundamental seperti masa Rasulullah saw, terutama cara berpakaian. Model yang sebenarnya ingin mengambil prinsip-prinsip literal al sunnah. Tak heran, kalau timbul guyonan baju menunjukkan identitas madzhabnya! Gerakan ini banyak mendapat perhatian pengamat asing, terutama untuk studi-studi akademik. Apalagi fenomena ini tidak hanya terdiri dari satu grup, namun muncul juga di grup yang lain dengan identifikasi khusus.
Sebagian kentara sekali warna Timur Tengahnya, sehingga kadang lebih mewakili eksistensi budaya Timur Tengahnya daripada pesan keagamaannya. Dengan fenomena ini bertambah lagi warna Islam di Indonesia. Kecenderungan-kecenderungan di atas, kemudian melahirkan Islam radikal, fundamental, moderat, liberal dan sebagainya. Mengapa? karena identitas itu memudahkan penggambaran gerakan masing-masing. Apakah Islam di masa lalu yang lebih menunjukkan identitas Islam Indonesia kemudian lenyap? Jawabnya, tidak sepenuhnya.
Namun gerakan yang paling banyak menarik media massa ini lebih sering ter-cover daripada Islam Indonesia sebelumnya. Meski awal-awal kemerdekaaan, kita tak melupakan gerakan DI/TII dan “ kekejaman ” kelompok Kartosuwiryo yang mencita berdirinya Islam di Indonesia. Islam Indonesia.
Sebelum Tragedi 11 September Studi Islam di Indonesia sebenarnya banyak menarik perhatian Islamist negeri terutama tentang raksasa dua organisasi massa Islam; NU dan Muhammadiyah. Namun, meski Indonesia kaya dengan banyak intelektual muslim, dari pihak organisasi manapun, mereka jarang terkenal dalam dunia Internasional.
v Islam di Indonesia Pada Masa Reformasi
Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan. Ambillah contoh misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media massa dengan coverage seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri.
Wajar saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan agama dengan kata lain jihad. Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi daerah masa presiden Abdurrahman Wahid.
Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam.
v Islam Indonesia Pasca 11 September
Merespon Amerika, Mencari Sekutu, Mencipta Enemi Baru tak ada yang menyangka, bahwa 11 September 2001 lalu, WTC di New York yang secanggih itu security-nya bisa hancur luluh dalam hitungan menit dan menggegerkan dunia. Banyak simpati dunia akan tragedi itu kepada Amerika. Presiden Megawati, bahkan, menjadi tamu pertama George Bush setelah peristiwa itu dan menyatakan dukungannya bahwa Indonesia di belakang setiap usaha untuk menumpas kekerasan/terorisme. Namun apa yang terjadi? Setelah “ malapetaka Amerika ” ini, muncul misi Amerika; perang melawan teroris. Indonesia pasca tragedi itu, pernah dijuluki surga bagi teroris, dengan merujuk situasi gerakan Islam belakangan.
Dikatakan bahwa otak pengeboman itu; Osama bin Laden, banyak mempunyai network dengan pentolan ormas-ormas yang lahir belakangan. Asumsi ini timbul karena meningkatnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbol-simbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan negara Islam dan lain-lain. Bagi mereka, terutama mereka yang melihat perkembangan Islam di Indonesia belakangan, gejala ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama ketakutan matinya demokrasi di Indonesia.
Bukan itu saja, gerakan yang didanai secara swadaya, ini juga rentan akan kedekatannya dengan penyandang-penyandang dana dari Timur Tengah. Sejak Amerika memproklamirkan war againts terorist, Indonesia masuk dalam sasaran ini. Apakah yang populer dan bisa diinventarisir dalam sorotan dunia tentang isu Islam di Indonesia pasca tragedi 11 September? Pertama, isu Jamaah Islamiyah (JI). Organisasi yang hampir tak pernah dikenal di Indonesia ini, disinyalir sebagai sarang lahirnya teroris. Meski sebenarnya banyak tokohnya ada di Malaysia, tak urung orang-orang yang pernah terlibat atau berhubungan dengan almarhum Abdullah Sungkar, sang pemimpin di Malaysia di manapun berada dianggap telah ikut menghidup-hidupkan JI ini.
Di Indonesia, nama Abu Bakar Baasyir, ketua MMI dan pengasuh pesantren Ngruki ini mendadak menjadi sangat terkenal, dalam kasus pencarian jaringan JI. Apapun alasannya, akhirnya ia berhasil dikenai dengan serangkaian tuduhan makar maupun aktor di balik terjadinya gerakan-gerakan Islam garis keras.
Kedua, meningkatnya sentimen anti-Amerika. Ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, Indonesia sebenarnya menunjukkan atensi dan simpati serta mengutuk perbuatan tak berperikemanusian ini, siapa pun pelakunya. Namun keputusan pemerintahan Amerika untuk menyisir Afganistan, negeri di mana Osama bin Laden kira-kira bersembunyi, telah melukai banyak umat muslim di Indonesia.
Afganistan memang di bawah rezim Taliban yang ditengarai sangat radikal dan literal dalam pemahamaman keagamaan, namun bukan kewajiban Amerika untuk kemudian menyerangnya dengan alasan untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan yang tiran sambil mencari-cari Osama. Agresi tetap agresi, di mana tindakan Amerika ini tak bisa meluputkan jatuhnya korban korban sipil. Setelah sukses dengan Afganistan dan memberinya “ kompensasi dengan kebijakan barunya menyerang Irak.
Apapun alasannya, Irak yang sampai hari belum sesukses Afganistan untuk ditaklukkan, Amerika telah menjadikan Irak sebagai seteru baru dan seolah-olah menjadi imaginer enemy. Untuk melakukan itu semua Amerika tidak sendiri, ia banyak mendapat sekutu, terutama sebagian negara-negara di Eropa.
Policy pemerintahan Amerika seperti di atas, sebenarnya sangatlah membuat risih. Banyak orang kemudian –termasuk di Indonesia- yang menggeneralisir bahwa apapun yang berbau Amerika harus dimusuhi, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Di Indonesia, ketika terjadi penyerangan-penyerangan itu, tak sedikit waralaba-waralaba Amerika yang ingin dihancurkan. Sementara orang kulit putih dari negara manapun, menjadi target kekerasan bom, maupun sweeping. Ini yang kemudian membuat sejumlah negara memberikan warning kepada turis untuk datang ke Indonesia.
Ketiga, menguatnya citra Islam radikal di Indonesia. Media massa, baik dalam maupun luar, telah banyak mengekspos berita-berita tentang wajah Islam di Indonesia yang seringkali tanpa reserve. Lihatlah, bagaimana istilah JI bisa sangat populer, bagaimana setiap saya bertemu dengan orang asing, selalu ditanya tentang Islam Fundamentalis, FPI dan sebagainya. Hal ini tentu disebabkan konstribusi media yang besar dalam menimbulkan opini publik yang suka atau tidak suka telah mengubah wajah Islam di Indonesia.
Keempat, meningkatnya aksi bom untuk dan atas nama jihad. Bagaimana pun, ketika dunia masih tersentak dengan peristiwa 11 September, selanjutnya Bali terjadi dan disusul dengan Bom J.W. Marriot hotel.
v Penutup
Wajah Islam di Indonesia selalu mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Masa pra kemerdekaan sebenarnya tak jauh dengan masa Soeharto. Pada masa reformasilah, yang banyak mendapat sorotan dunia. Saat itu, wajah Islam kita tiba-tiba total menjadi Islam yang yang suka menunjukkan kekuatan dan banyak mencita-citakan mati syahid (martir) kalau berhasil melenyapkan orang yang didefinisikan sebagai musuh.
Meski citra ini mereduksi wajah Islam Indonesia yang toleran dan ramah, publik atau dunia mulai melihat titik terang Islam di Indonesia. Mereka misalnya sering mencari rujukan-rujukan model keberagamaan seperti di NU dan Muhammadiyah. Sebutlah yang agak kontroversial misalnya, undangan Presiden Bush sewaktu ke Bali dan safari dubes AS ke beberapa tokoh dan pesantren.
Ø SUMBER
1. Prof. Dr. P.S. Van Koningsveld. Snouck Hurgronje dan Islam; Delapan Karangan Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial Islam
2. Pergulatan Muslim; Otobiografi Hasan raid
3. www.wikipedia.net
4. www.google.com
http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8387275383035134298&postID=738126434933996602
Islam di Indonesia pada masa kolonial Melihat periode ini sangatlah panjang. Namun, periode-periode ini bisa dilihat sebagai titik awal identitas Islam di Indonesia. Hal ini karena masuknya Islam di Indonesia yang ditandai dengan akulturasi budaya yang sangat kental, berjalan lancar dan tidak mengagetkan keberagamaan awal penduduknya.
Islam melebur dengan budaya lokal, menangkap spirit penyebaran agama yang harus disampaikan tanpa kekerasan. Tak ada kafiyeh, jilbab, masjid berkubah layaknya di Timur Tengah, kalaupun ada itu dalam hitungan angka. Banyak kalangan dalam dan luar mengakui keberhasilan ini, lepas dari perdebatan apakah Islam dibawa oleh pedagang Gujarat atau dari orang- langsung. Dari sinilah, citra Islam Arab tidak nampak di Indonesia, abad belakangan barulah nampak identitas Arab itu, lagi-lagi bukan dalam jumlah yang mayoritas.
Sementara itu, ketaatan kepada pemimpin atau pemuka agama yang nyaris tanpa reserve menjadi gambaran umum di banyak tempat. Hal ini malah menjadi kekuatan tersendiri di masa lampau. Masa kolonial Belanda misalnya, mengabadikan nama Snouck Hurgronje sebagai penasehat ulung pemerintahannya. Resistensi Muslim Aceh memang menjadi pekerjaan besar tersendiri bagi kolonial. Strategi inilah yang kemudian mengantarkan Snouck sampai di Tanah suci dan rahasia kekuatan Aceh terkuak, dan Aceh menjadi daerah di Indonesia yang paling akhir ditaklukan. Peristiwa ini kemudian menjadi sejarah penting bagaimana satu dari banyak tipologi Islam di Indonesia “ dimanfaatkan ” oleh dunia luar.
Selain gambaran politik Islam dan kolonial di masa itu, proses penyebaran Islam di Nusantara yang memang tidak persis seiring waktu dan tempat dengan kolonialisasi juga menarik dikemukakan. Pertama, sebagaimana dijelaskan di atas, akulturasi dan asimilasi budaya telah membentuk identitas Islam Indonesia sebagai agama pendatang. Identitas yang banyak disemangati oleh nilai toleransi itu telah membuat konfigurasi “anyar” antara agama yang datang dari Timur Tengah dan agama yang tunduk pada original culture menafikan substansi pesan “ langit ” agama itu. Kedua, meski kemudian menjadi agama mayoritas, Islam tidak menjadi dominan di seluruh area Indonesia, banyak daerah menjadi konsentrasi agama-agama tertentu, misalnya; Manado untuk Kristen, Bali untuk Hindu dsb. Fenomena ini sesungguhnya mengajarkan, bahwa di antara yang berbeda, tetap ada harmoni, dan untuk melawan kekerasan atas nama agama, kuncinya terletak pada toleransi, seperti di masa lalu, sesuatu yang sangat sulit kita temukan pada masa sekarang. Selain hal-hal di atas, masih banyak contoh lain di masa lalu yang menjadi fondamen warna Islam di Indonesia.
v Masa Kemerdekaan: Islam versus Komunis =Islam Komunis?
Yang menarik dari Islam masa ini adalah, era di mana gerakan komunis mulai mendapat momentumnya. Ketika ramai-ramai orang mempersepsikan komunis setali tiga uang dengan atheisme, komunisme di Indonesia malah berinteraksi secara baik-baik dengan kaum muslim. Kenapa? Karena komunisme adalah gerakan, bukan dimaknai sebagai ideologi an sich, ia bisa dijadikan model gerakan untuk memperbaiki ketidakberdayaan masyarakat, yang memang menjadi kondisi nyata bangsa Indonesia waktu itu.
Presiden Soekarno sendiri memaklumatkan ideologi Nasakom, yang sama sekali bukan sebagai relasi agama vis-a-vis komunisme tapi lebih sebagai perlawanan mengguritanya kapitalisme dan Soekarno merasa harus menemukan formula yang tepat mengatasi situasi keterpurukan ekonomi bangsa, belum stabilnya politik negara. Meski untuk itu, perkawanannya dengan negara-negara tetangga yang menjadikan komunis sebagai poros, barangkali banyak mengilhami pemikiran Soekarno dalam melihat persoalan di Indonesia.
Meski dunia lebih mencatat komunis di Indonesia sebagai gerakan kudeta, namun sebenarnya internalisasi nilai-nilai komunis dalam Islam menarik untuk ditelusuri. Beberapa dari mereka malah mencari titik persamaan antara keduanya, sebagai sesuatu yang oleh publik diantagoniskan, misalnya; keberpihakan terhadap yang lemah dan cita-cita mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
v Islam di Indonesia pada Masa Orde Baru
Tesa Clifford Gertz tentang kategori tiga muslim sebagai santri, abangan priyayi sebenarnya sudah lama terbantahkan. Meski analisanya tak sepenuhnya sahih, Gertz sesungguhnya telah melihat praktek-praktek keagamaan model masyarakat Jawa dibandingkan dengan konsep agamanya yang genuine. abangan, bisa dikatakan bahwa ada proses konversi yang tidak lengkap. Dalam waktu yang lama misalnya, orang-orang Jawa masih memelihara praktek tradisi Hindu dan menggunakan Islam dan Syariahnya hanya sebagai bungkus atau petunjuk formal dan wadah bagi kehidupan spiritual.
Pada era Soeharto, performance Islam Indonesia sebenarnya justru lebih pada kecurigaan kelompok-kelompok, pencatatan setiap pertemuan publik yang bersifat keagamaan, pembubaran organisasi yang dianggap menggerogoti Pancasila dan tindakan subversif.
Baru pada era 90-an Islam nampaknya menemukan momentum gerakannya. Ini misalnya ditandai dengan lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di tahun 1992, greening birokrasi meminjam istilah Hefner dalam “ Civil Islam ” menjadi gairah baru kehidupan muslim di Indonesia. Sejak itu, atribut-atribut Islam pengamat lebih sering menyebutnya sebagai simbol menjadi warna keseharian kehidupan muslim.
Pilihan memakai busana muslimah, misalnya, sudah menjadi bagian dari kehidupan publik, dan fenomena tidak hanya terjadi di ICMI, namun seiring menguatnya gerakan tarbiyah Islam dari kaum urban. Gerakan ini, terutama dimotori kaum muda dari universitas-universitas umum.
Mereka menginginkan kehidupan yang khuysuk dengan menerapkan ajaran yang fundamental seperti masa Rasulullah saw, terutama cara berpakaian. Model yang sebenarnya ingin mengambil prinsip-prinsip literal al sunnah. Tak heran, kalau timbul guyonan baju menunjukkan identitas madzhabnya! Gerakan ini banyak mendapat perhatian pengamat asing, terutama untuk studi-studi akademik. Apalagi fenomena ini tidak hanya terdiri dari satu grup, namun muncul juga di grup yang lain dengan identifikasi khusus.
Sebagian kentara sekali warna Timur Tengahnya, sehingga kadang lebih mewakili eksistensi budaya Timur Tengahnya daripada pesan keagamaannya. Dengan fenomena ini bertambah lagi warna Islam di Indonesia. Kecenderungan-kecenderungan di atas, kemudian melahirkan Islam radikal, fundamental, moderat, liberal dan sebagainya. Mengapa? karena identitas itu memudahkan penggambaran gerakan masing-masing. Apakah Islam di masa lalu yang lebih menunjukkan identitas Islam Indonesia kemudian lenyap? Jawabnya, tidak sepenuhnya.
Namun gerakan yang paling banyak menarik media massa ini lebih sering ter-cover daripada Islam Indonesia sebelumnya. Meski awal-awal kemerdekaaan, kita tak melupakan gerakan DI/TII dan “ kekejaman ” kelompok Kartosuwiryo yang mencita berdirinya Islam di Indonesia. Islam Indonesia.
Sebelum Tragedi 11 September Studi Islam di Indonesia sebenarnya banyak menarik perhatian Islamist negeri terutama tentang raksasa dua organisasi massa Islam; NU dan Muhammadiyah. Namun, meski Indonesia kaya dengan banyak intelektual muslim, dari pihak organisasi manapun, mereka jarang terkenal dalam dunia Internasional.
v Islam di Indonesia Pada Masa Reformasi
Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan. Ambillah contoh misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media massa dengan coverage seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri.
Wajar saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan agama dengan kata lain jihad. Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi daerah masa presiden Abdurrahman Wahid.
Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam.
v Islam Indonesia Pasca 11 September
Merespon Amerika, Mencari Sekutu, Mencipta Enemi Baru tak ada yang menyangka, bahwa 11 September 2001 lalu, WTC di New York yang secanggih itu security-nya bisa hancur luluh dalam hitungan menit dan menggegerkan dunia. Banyak simpati dunia akan tragedi itu kepada Amerika. Presiden Megawati, bahkan, menjadi tamu pertama George Bush setelah peristiwa itu dan menyatakan dukungannya bahwa Indonesia di belakang setiap usaha untuk menumpas kekerasan/terorisme. Namun apa yang terjadi? Setelah “ malapetaka Amerika ” ini, muncul misi Amerika; perang melawan teroris. Indonesia pasca tragedi itu, pernah dijuluki surga bagi teroris, dengan merujuk situasi gerakan Islam belakangan.
Dikatakan bahwa otak pengeboman itu; Osama bin Laden, banyak mempunyai network dengan pentolan ormas-ormas yang lahir belakangan. Asumsi ini timbul karena meningkatnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbol-simbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan negara Islam dan lain-lain. Bagi mereka, terutama mereka yang melihat perkembangan Islam di Indonesia belakangan, gejala ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama ketakutan matinya demokrasi di Indonesia.
Bukan itu saja, gerakan yang didanai secara swadaya, ini juga rentan akan kedekatannya dengan penyandang-penyandang dana dari Timur Tengah. Sejak Amerika memproklamirkan war againts terorist, Indonesia masuk dalam sasaran ini. Apakah yang populer dan bisa diinventarisir dalam sorotan dunia tentang isu Islam di Indonesia pasca tragedi 11 September? Pertama, isu Jamaah Islamiyah (JI). Organisasi yang hampir tak pernah dikenal di Indonesia ini, disinyalir sebagai sarang lahirnya teroris. Meski sebenarnya banyak tokohnya ada di Malaysia, tak urung orang-orang yang pernah terlibat atau berhubungan dengan almarhum Abdullah Sungkar, sang pemimpin di Malaysia di manapun berada dianggap telah ikut menghidup-hidupkan JI ini.
Di Indonesia, nama Abu Bakar Baasyir, ketua MMI dan pengasuh pesantren Ngruki ini mendadak menjadi sangat terkenal, dalam kasus pencarian jaringan JI. Apapun alasannya, akhirnya ia berhasil dikenai dengan serangkaian tuduhan makar maupun aktor di balik terjadinya gerakan-gerakan Islam garis keras.
Kedua, meningkatnya sentimen anti-Amerika. Ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, Indonesia sebenarnya menunjukkan atensi dan simpati serta mengutuk perbuatan tak berperikemanusian ini, siapa pun pelakunya. Namun keputusan pemerintahan Amerika untuk menyisir Afganistan, negeri di mana Osama bin Laden kira-kira bersembunyi, telah melukai banyak umat muslim di Indonesia.
Afganistan memang di bawah rezim Taliban yang ditengarai sangat radikal dan literal dalam pemahamaman keagamaan, namun bukan kewajiban Amerika untuk kemudian menyerangnya dengan alasan untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan yang tiran sambil mencari-cari Osama. Agresi tetap agresi, di mana tindakan Amerika ini tak bisa meluputkan jatuhnya korban korban sipil. Setelah sukses dengan Afganistan dan memberinya “ kompensasi dengan kebijakan barunya menyerang Irak.
Apapun alasannya, Irak yang sampai hari belum sesukses Afganistan untuk ditaklukkan, Amerika telah menjadikan Irak sebagai seteru baru dan seolah-olah menjadi imaginer enemy. Untuk melakukan itu semua Amerika tidak sendiri, ia banyak mendapat sekutu, terutama sebagian negara-negara di Eropa.
Policy pemerintahan Amerika seperti di atas, sebenarnya sangatlah membuat risih. Banyak orang kemudian –termasuk di Indonesia- yang menggeneralisir bahwa apapun yang berbau Amerika harus dimusuhi, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Di Indonesia, ketika terjadi penyerangan-penyerangan itu, tak sedikit waralaba-waralaba Amerika yang ingin dihancurkan. Sementara orang kulit putih dari negara manapun, menjadi target kekerasan bom, maupun sweeping. Ini yang kemudian membuat sejumlah negara memberikan warning kepada turis untuk datang ke Indonesia.
Ketiga, menguatnya citra Islam radikal di Indonesia. Media massa, baik dalam maupun luar, telah banyak mengekspos berita-berita tentang wajah Islam di Indonesia yang seringkali tanpa reserve. Lihatlah, bagaimana istilah JI bisa sangat populer, bagaimana setiap saya bertemu dengan orang asing, selalu ditanya tentang Islam Fundamentalis, FPI dan sebagainya. Hal ini tentu disebabkan konstribusi media yang besar dalam menimbulkan opini publik yang suka atau tidak suka telah mengubah wajah Islam di Indonesia.
Keempat, meningkatnya aksi bom untuk dan atas nama jihad. Bagaimana pun, ketika dunia masih tersentak dengan peristiwa 11 September, selanjutnya Bali terjadi dan disusul dengan Bom J.W. Marriot hotel.
v Penutup
Wajah Islam di Indonesia selalu mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Masa pra kemerdekaan sebenarnya tak jauh dengan masa Soeharto. Pada masa reformasilah, yang banyak mendapat sorotan dunia. Saat itu, wajah Islam kita tiba-tiba total menjadi Islam yang yang suka menunjukkan kekuatan dan banyak mencita-citakan mati syahid (martir) kalau berhasil melenyapkan orang yang didefinisikan sebagai musuh.
Meski citra ini mereduksi wajah Islam Indonesia yang toleran dan ramah, publik atau dunia mulai melihat titik terang Islam di Indonesia. Mereka misalnya sering mencari rujukan-rujukan model keberagamaan seperti di NU dan Muhammadiyah. Sebutlah yang agak kontroversial misalnya, undangan Presiden Bush sewaktu ke Bali dan safari dubes AS ke beberapa tokoh dan pesantren.
Ø SUMBER
1. Prof. Dr. P.S. Van Koningsveld. Snouck Hurgronje dan Islam; Delapan Karangan Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial Islam
2. Pergulatan Muslim; Otobiografi Hasan raid
3. www.wikipedia.net
4. www.google.com
http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8387275383035134298&postID=738126434933996602
Mengenal Lebih Dekat “Anak Luar Biasa”
Oleh: Saiful Azhar Aziz
Anak merupakan anugerah Alloh SWT. Kehadiran anak didalam sebuah keluarga bisa menjadi sebuah kebahagian, karena ia akan menjadi penerus keberlangsungan eksistensi orangtua. Namun, terkadang orangtua bisa menjadi sulit menerima kehadiran seorang anak yang tidak seperti biasanya. Seorang anak yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Perbedaan inilah yang terkadang membuat anak-anak dilingkungannya sulit pula untuk menerimanya. Sebagian orangtua memilih untuk tidak banyak berbicara karena merasa malu dengan keadaan anaknya. Perasaan malu inilah yang membuat orangtua kehilangan kepercayaan dirinya, sehingga berdampak kepada pendidikan anak tersebut. Oleh karena itu, pada bagian pertama ini kita perlu mengetahui lebih mendalam tentang anak luar biasa. Dalam buku psikologi anak luar biasa, Sutjihati Somantri (2006) mengklasifikasikan enam katagori anak luar biasa:
1. Tunanetra (Penyandang Hambatan Penglihatan)
Individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari disebut tunanetra.
2. Tunarungu (Penyandang Hambatan Pendengaran)
Andreas Dwidjosumarto (1990:1) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua katagori yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
3. Tunagrahita (Penyandang Gangguan Perkembangan Intelegensi)
Anak-anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata disebut tunagrahita. Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mentally retarded, mental deficiency, mental defective.
American Association of Mental Deficiency (AAMD) mendefinisikan tunagrahita sebagai berikut: “Keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelektual di bawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian perilaku dan terjadi pada masa perkembangan” (Kauffman dan Hallahan, 1986)
4. Tunadaksa (Penyandang Hambatan Fisik dan Gerak)
Tunadaksa berarti suatu keadaan rusak atau tergangu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir (White House Conference, 1931).
5. Tunalaras
Anak tunalaras sering juga disebut anak tunasosial, karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat, seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain.
Kauffman (1977) mengemukakan batasan mengenai anak yang mengalami gangguan perilaku “sebagai anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa ada kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan pribadinya”.
Sedangkan Departemen Pendidikan Budaya (1977:13) memberikan batasan bahwa “anak yang berumur 6-17 tahun dengan karakteristik anak tersebut mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat”.
6. Anak Berbakat
Lucito (dalam Cartwright, 1984) mengklasifikasikan definisi keberbakatan sebagai berikut:
a. Ex post facto, yang didasarkan atas penampilan prestasi yang luar biasa dalam bidang tertentu
b. Intelligence-test, yang didasarkan atas skor IQ setelah diukur oleh tes kecerdasan
c. Social, yang didasarkan atas kecakapan-kecakapan yang secara sosial dapat disetujui (diterima)
d. Percentage, yang didasarkan atas persyaratan masyarakat akan jumlah rang berbakat yang dikehendaki untuk memainkan peran-peran khusus.
e. Creativity, yang didasarkan atas perilaku dan/atau unjuk-kerja sebagaimana diukur oleh pengukuran kreativitas
Sedangkan Renzulli (1978) merumuskan keberbakatan terbentuk dari hasil interaksi tiga kluster aspek penting, yaitu: kecakapan diatas rata-rata, komitmen tugas yang tinggi, dan kreativitas. Dan Clark (1988:48) mengatakan “….creativity, the highest expression of giftedness…”
7. Anak Berkesulitan Belajar
Dalam berbagai literatur psikologi, istilah anak berkesulitan belajar lebih sering disebut kelompok learning disabilities. Siapakah yang dimaksud dengan anak berkesulitan belajar?. Mari kita amati kasus dengan ilustrasi sebagai berikut:
Lina, seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang menunjukkan ketidakmampuan dalam berkonsentrasi terhadap pekerjaan sekolah kecuali dalam beberapa menit saja. Secara konstan dia selalu keluar dari tempat duduknya dan mengganggu temannya. Ketika dia melakukan konsentrasi, seringkali dia tertahan terhadap hal-hal detil yang tak berarti, seperti dia hanya memperhatikan bagian kecil dari gambar ketimbang memperhatikan gambar secara keseluruhan. Dia menunjukkan kekacauan di dalam permainan di lapangan. Dia tak mampu melempar atau menangkap bola dengan tepat dan terkoordinasi sebagaimana gadis lain seusianya. Dia bersifat impulsive untuk menyakiti anak lain tanpa alasan yang jelas. Lina adalah seorang anak yang berkesulitan belajar, dia tidak mampu melakukan tugas-tugas akademik dengan baik kendatipun fakta menunjukkan bahwa dia memperoleh skor inteligensi dalam rentang rata-rata.
Menurut para ahli, seperti Samuel A.Kirk (1971) dan Haring (1974), dalam buku psikologi anak luar biasa, Sutjihati Somantri (2006:195) dari kasus di atas, anak berkesulitan belajar tidak termasuk ke dalam kelompok anak luar biasa, tetapi mereka termasuk ke dalam kelompok tersendiri yang disebut learning disabilities,
Dari beberapa katagori anak luar biasa yang didefinisikan, dapat kita pahami bersama bahwa keberadaan mereka adalah nyata ditengah-tengah kehidupan kita. Di dalam Undang-undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa:
(1) Warga Negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.
(2) Warga Negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.
Artinya, pemerintah dan masyarakat turut serta dalam proses pendidikan mereka melalui sekolah luar biasa (SLB), maupun pendampingan di dalam lingkungan masyarakat. Pendampingan tersebut bisa dilakukan secara aktif, minimal dapat memberikan pandangan positif terhadap anak luar biasa atau memperlakukan mereka sebagaimana anak-anak lainnya.
Dari berbagai sumber
Kader IMM Djazman al-Kindi Kota YK
Anak merupakan anugerah Alloh SWT. Kehadiran anak didalam sebuah keluarga bisa menjadi sebuah kebahagian, karena ia akan menjadi penerus keberlangsungan eksistensi orangtua. Namun, terkadang orangtua bisa menjadi sulit menerima kehadiran seorang anak yang tidak seperti biasanya. Seorang anak yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Perbedaan inilah yang terkadang membuat anak-anak dilingkungannya sulit pula untuk menerimanya. Sebagian orangtua memilih untuk tidak banyak berbicara karena merasa malu dengan keadaan anaknya. Perasaan malu inilah yang membuat orangtua kehilangan kepercayaan dirinya, sehingga berdampak kepada pendidikan anak tersebut. Oleh karena itu, pada bagian pertama ini kita perlu mengetahui lebih mendalam tentang anak luar biasa. Dalam buku psikologi anak luar biasa, Sutjihati Somantri (2006) mengklasifikasikan enam katagori anak luar biasa:
1. Tunanetra (Penyandang Hambatan Penglihatan)
Individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari disebut tunanetra.
2. Tunarungu (Penyandang Hambatan Pendengaran)
Andreas Dwidjosumarto (1990:1) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua katagori yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
3. Tunagrahita (Penyandang Gangguan Perkembangan Intelegensi)
Anak-anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata disebut tunagrahita. Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mentally retarded, mental deficiency, mental defective.
American Association of Mental Deficiency (AAMD) mendefinisikan tunagrahita sebagai berikut: “Keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelektual di bawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian perilaku dan terjadi pada masa perkembangan” (Kauffman dan Hallahan, 1986)
4. Tunadaksa (Penyandang Hambatan Fisik dan Gerak)
Tunadaksa berarti suatu keadaan rusak atau tergangu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir (White House Conference, 1931).
5. Tunalaras
Anak tunalaras sering juga disebut anak tunasosial, karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat, seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain.
Kauffman (1977) mengemukakan batasan mengenai anak yang mengalami gangguan perilaku “sebagai anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa ada kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan pribadinya”.
Sedangkan Departemen Pendidikan Budaya (1977:13) memberikan batasan bahwa “anak yang berumur 6-17 tahun dengan karakteristik anak tersebut mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat”.
6. Anak Berbakat
Lucito (dalam Cartwright, 1984) mengklasifikasikan definisi keberbakatan sebagai berikut:
a. Ex post facto, yang didasarkan atas penampilan prestasi yang luar biasa dalam bidang tertentu
b. Intelligence-test, yang didasarkan atas skor IQ setelah diukur oleh tes kecerdasan
c. Social, yang didasarkan atas kecakapan-kecakapan yang secara sosial dapat disetujui (diterima)
d. Percentage, yang didasarkan atas persyaratan masyarakat akan jumlah rang berbakat yang dikehendaki untuk memainkan peran-peran khusus.
e. Creativity, yang didasarkan atas perilaku dan/atau unjuk-kerja sebagaimana diukur oleh pengukuran kreativitas
Sedangkan Renzulli (1978) merumuskan keberbakatan terbentuk dari hasil interaksi tiga kluster aspek penting, yaitu: kecakapan diatas rata-rata, komitmen tugas yang tinggi, dan kreativitas. Dan Clark (1988:48) mengatakan “….creativity, the highest expression of giftedness…”
7. Anak Berkesulitan Belajar
Dalam berbagai literatur psikologi, istilah anak berkesulitan belajar lebih sering disebut kelompok learning disabilities. Siapakah yang dimaksud dengan anak berkesulitan belajar?. Mari kita amati kasus dengan ilustrasi sebagai berikut:
Lina, seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang menunjukkan ketidakmampuan dalam berkonsentrasi terhadap pekerjaan sekolah kecuali dalam beberapa menit saja. Secara konstan dia selalu keluar dari tempat duduknya dan mengganggu temannya. Ketika dia melakukan konsentrasi, seringkali dia tertahan terhadap hal-hal detil yang tak berarti, seperti dia hanya memperhatikan bagian kecil dari gambar ketimbang memperhatikan gambar secara keseluruhan. Dia menunjukkan kekacauan di dalam permainan di lapangan. Dia tak mampu melempar atau menangkap bola dengan tepat dan terkoordinasi sebagaimana gadis lain seusianya. Dia bersifat impulsive untuk menyakiti anak lain tanpa alasan yang jelas. Lina adalah seorang anak yang berkesulitan belajar, dia tidak mampu melakukan tugas-tugas akademik dengan baik kendatipun fakta menunjukkan bahwa dia memperoleh skor inteligensi dalam rentang rata-rata.
Menurut para ahli, seperti Samuel A.Kirk (1971) dan Haring (1974), dalam buku psikologi anak luar biasa, Sutjihati Somantri (2006:195) dari kasus di atas, anak berkesulitan belajar tidak termasuk ke dalam kelompok anak luar biasa, tetapi mereka termasuk ke dalam kelompok tersendiri yang disebut learning disabilities,
Dari beberapa katagori anak luar biasa yang didefinisikan, dapat kita pahami bersama bahwa keberadaan mereka adalah nyata ditengah-tengah kehidupan kita. Di dalam Undang-undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa:
(1) Warga Negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.
(2) Warga Negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.
Artinya, pemerintah dan masyarakat turut serta dalam proses pendidikan mereka melalui sekolah luar biasa (SLB), maupun pendampingan di dalam lingkungan masyarakat. Pendampingan tersebut bisa dilakukan secara aktif, minimal dapat memberikan pandangan positif terhadap anak luar biasa atau memperlakukan mereka sebagaimana anak-anak lainnya.
Dari berbagai sumber
Kader IMM Djazman al-Kindi Kota YK
Selasa, 11 Januari 2011
Wasiat Loon (Mantan RappeR Dunia)
WASIAT Amir Junaidi Muhaddith aLias “LooN” seorang Mantan RaPPer TOP Ten Amerika.
Sebagai seseorang yang mengetahui jorok dan najisnya Amerika dan barat, usai ibadah haji dan sebelum kembali ke new york, di depan kamera TV AL-jazeerah, Amir menyampaikan pesan ya kepada seluruh umat ISLam di penjuru dunia.
Berikut adalah pesan BeLiau.
“ Ini adalah ucapan saya yang keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam. Kepada setiap pemuda dan generasi muslim. Jangan sekali-kali terpengaruh oleh peradapan barat, demikian juga dengan tradisi mereka.
Jangan sekali-kali meniru lagu-lagu barat dan perilaku mereka serta apa saja yang dilakukan penyanyi amerika atau barat lainya. Berbanggalah dengan islam dan agama ini yang sekarang dicari-cari oleh orang-orang kaya dan orang-orang terkenal di dunia. Setelah mereka mengenal islam, mereka akan tau bahwa apa yang mereka kerjakan bertahun-tahun sebelumnya tidaklah bermutudan berguna”
Di akhir pesanya iapun menyerukan kepada seluruh kaum muslimin,
“Banggalah Anda sebagai Muslim. KenaLilah ALLoh sebagai Tuhan Pencipta dan kenalilah Nabi Muhammad Solallahu’alaihi Wassalam sebagai misi yang membawa keselamatan”
SadarLah Wahai Kaum Muslimin.....
Indonesia masih terjajah dengan Budaya Barat!!!!!!
Sumber:
(Media Umat, Edisi 45 7-20 Dzulqoidah 1431/15-28 Oktober )
by: Laeli Weha
Sebagai seseorang yang mengetahui jorok dan najisnya Amerika dan barat, usai ibadah haji dan sebelum kembali ke new york, di depan kamera TV AL-jazeerah, Amir menyampaikan pesan ya kepada seluruh umat ISLam di penjuru dunia.
Berikut adalah pesan BeLiau.
“ Ini adalah ucapan saya yang keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam. Kepada setiap pemuda dan generasi muslim. Jangan sekali-kali terpengaruh oleh peradapan barat, demikian juga dengan tradisi mereka.
Jangan sekali-kali meniru lagu-lagu barat dan perilaku mereka serta apa saja yang dilakukan penyanyi amerika atau barat lainya. Berbanggalah dengan islam dan agama ini yang sekarang dicari-cari oleh orang-orang kaya dan orang-orang terkenal di dunia. Setelah mereka mengenal islam, mereka akan tau bahwa apa yang mereka kerjakan bertahun-tahun sebelumnya tidaklah bermutudan berguna”
Di akhir pesanya iapun menyerukan kepada seluruh kaum muslimin,
“Banggalah Anda sebagai Muslim. KenaLilah ALLoh sebagai Tuhan Pencipta dan kenalilah Nabi Muhammad Solallahu’alaihi Wassalam sebagai misi yang membawa keselamatan”
SadarLah Wahai Kaum Muslimin.....
Indonesia masih terjajah dengan Budaya Barat!!!!!!
Sumber:
(Media Umat, Edisi 45 7-20 Dzulqoidah 1431/15-28 Oktober )
by: Laeli Weha
Minggu, 09 Januari 2011
SELAMAT DAN SUKSES
SeLamat dan Sukses atas terpilihnya IMMawan Rizqa Nusyuwar Atmaja atas terpilihnya sebagai ketua komisariat IMM komisariat psikologi Universitas Ahmad Dahlan periode 2010-2011. semoga dapat mengemban amanah dan membawa IMM psikologi UAD menjadi lebih baik. amin.... semangaaaaddd!!! ^_^
Sekapur Sirih PK IMM Psikologi
Oleh: IMMawan Wicaksana Ari Wibawa*
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (QS Al-Asr)
Sebagai seorang hamba yang tidak sempurna, tentu mengemban amanah adalah sebuah bentuk aktifitas maupun ibadah yang berat. Baik secara kewajiban, pikiran maupun fisik. Akan tetapi yang lebih penting, setiap aktifitas untuk mengemban amanah tersebut haruslah selalu dijalankan dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan penuh keikhlasan semata mata untuk mendapat ridha Allah SWT.
Di dalam menjalankan sebuah amanah, pemahaman akan sesuatu adalah hal penting yang perlu disadari dan diperhatikan sebagai asas dasar dalam bertindak, Apabila pewajiban tidak dianggap sebagai bentuk dehumanisasi, mungkin saya beranggapan pemahaman ini adalah wajib. Sehingga suatu bentuk aktifitas didalamnya tidak hanya dipahami secara mekanis, akan tetapi juga substantif,
Kemauan, kemampuan dan kesempatan. Tiga hal tersebut tidak akan pernah lepas jika kita berbicara tentang sebuah peran dalam kehidupan. Dan waktu adalah sebuah misteri yang terkadang menipu, karena dia bisa saja menjembatani maupun memisahkan ketiga hal itu. Begitu pula di dalam ikatan, 3 hal ini selalu mengiringi proses proses perjuangan kami di dalamnya, dan permainan tipuan waktu terkadang begitu indah sampai tak terasa kami berada di ujung kepemimpinan periode ini.
*Demisioner PK IMM 2009-2010
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (QS Al-Asr)
Sebagai seorang hamba yang tidak sempurna, tentu mengemban amanah adalah sebuah bentuk aktifitas maupun ibadah yang berat. Baik secara kewajiban, pikiran maupun fisik. Akan tetapi yang lebih penting, setiap aktifitas untuk mengemban amanah tersebut haruslah selalu dijalankan dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan penuh keikhlasan semata mata untuk mendapat ridha Allah SWT.
Di dalam menjalankan sebuah amanah, pemahaman akan sesuatu adalah hal penting yang perlu disadari dan diperhatikan sebagai asas dasar dalam bertindak, Apabila pewajiban tidak dianggap sebagai bentuk dehumanisasi, mungkin saya beranggapan pemahaman ini adalah wajib. Sehingga suatu bentuk aktifitas didalamnya tidak hanya dipahami secara mekanis, akan tetapi juga substantif,
Kemauan, kemampuan dan kesempatan. Tiga hal tersebut tidak akan pernah lepas jika kita berbicara tentang sebuah peran dalam kehidupan. Dan waktu adalah sebuah misteri yang terkadang menipu, karena dia bisa saja menjembatani maupun memisahkan ketiga hal itu. Begitu pula di dalam ikatan, 3 hal ini selalu mengiringi proses proses perjuangan kami di dalamnya, dan permainan tipuan waktu terkadang begitu indah sampai tak terasa kami berada di ujung kepemimpinan periode ini.
*Demisioner PK IMM 2009-2010
Peneguhan Karakter Muda, Membangun Gerakan Berbudaya*
oleh; Saiful Azhar Aziz
Ausebel (1965) menyebut status orang dewasa sebagai status primer, artinya status itu diperoleh berdasarkan kemampuan dan usaha sendiri. Status anak adalah status diperoleh (derived), artinya tergantung daripada apa yang diberikan oleh orang tua (dan masyarakat). Remaja ada dalam status interim sebagai akibat daripada posisi yang diberikan oleh orang tua dan sebagian diperoleh melalui usaha sendiri. Suatu pendidikan emansipatoris (yang memandirikan). akan berusaha melepaskan remaja dari status interimnya supaya ia dapat menjadi dewasa yang bertanggungjawab. (Masa remaja yang diperpendek, masa remaja yang diperpanjang. Adolesensi (dalam perkembangan menjadi dewsaa). Secara global 12-21 masa remaja. 12-15 remaja awal, 15-18 masa remaja pertengahan, 18-21 masa remaja akhir. Levinsin dkk (1978) masa anak dan masa remaja (0-22), dewasa awal 17-45, dewasa madya 40-65, dewasa akhir 60 keatas.
Dalam buku-buku angelsaksis (Hill/Monks 1977) istilah “pemuda” (youth) memperoleh arti yg baru yaitu suatu masa peralihan antara masa remaja dan masa dewasa. Dalam buku tersebut akan dijumpai pemisahan antara adolesensi (12-18) dan masa pemuda (19-24).
Remplein (1962) “jugencrise” (krisis remaja) adanya penyimpangan masa pubertas. Pubertas 12-16 tahun laki2 dan 11-15 wanita
Memanfaatkan waktu luang: Originalitas remaja Brightbill (1966) remaja lebih banyak mengalami kesukaran dlm memanfaatkan waktu luangnya daripada anak-anak. Remaja dapat melepaskan kelebihan energinya dalam berolahraga dan dalam menemukan identitasnya, dapat membandingkan kemampuan dengan teman2 dlm mencari identitas dan dominasi yang pada anak laki2 lebih berkolerasi dengan prestasi olah raga (Wersfeld dkk., 1983)
Sekilas sejarah Pemuda Indonesia:
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia. Yaitu, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan
PERTAMA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
Sekilas Tokoh2 Muda:
MAHMOUD AHMADINEJAD/AHMADINEZHAD (LAHIR 28 OKTOBER 1956) ADALAH PRESIDEN IRAN YANG KEENAM. JABATAN KEPRESIDENANNYA DIMULAI PADA 3 AGUSTUS 2005. LAHIR DI DESA PERTANIAN ARADAN, DEKAT GARMSAR, SEKITAR 100 KM DARI TEHERAN, SEBAGAI PUTRA SEORANG PANDAI BESI.
BARACK HUSSEIN OBAMA (LAHIR 4 AGUSTUS 1961) ADALAH PRESIDEN KE 44 AMERIKA SERIKAT. DIA ADALAH ORANG AFRICAN AMERICAN PERTAMA YANG MEMEGANG JABATAN PENTING SEBAGAI PRESIDEN AMERIKA SERIKAT. (3 JANUARI 2005).
PRESIDEN PERTAMA REPUBLIK INDONESIA, SOEKARNO YANG BIASA DIPANGGIL BUNG KARNO, LAHIR DI BLITAR, JAWA TIMUR, 6 JUNI 1901 DAN MENINGGAL DI JAKARTA, 21 JUNI 1970 20 JANUARI 2009
MOHAMMAD HATTA LAHIR PADA TANGGAL 12 AGUSTUS 1902 DI BUKITTINGGI.
Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia
Muhammad SAW: Beliau hidup di dunia ini selama enam puluh tiga tahun. Kita dapat mengklasifikasikan usia beliau yang penuh berkah ini dalam tiga klasifikasi besar:
- Empat puluh tahun pertama hingga pengangkatan menjadi nabi.
- Tiga puluh tahun masa kenabian hingga beliau hijrah ke Madinah.
Mengenai Belajar:
Scinner, proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yg belangsung secra progersif.
Chaplin, perubahan tingkah laku yg relative menetap tergantung latihan dan pengalaman
Hintzman, perubahan yg terjadi krn pengalaman yg dpt mempengaruhi tingkah laku
wittig. Perubahan; tingkah laku: pengalamanan
Abdul Mu’ti: Tiga persoalan pendidikan di Indonesia:
1. Financial. Realisasi anggaran pendidikan 20 %. Dampak, banyak yg tdk sekolah, buta huruf, lembaga yg dikelola apa adanya (modal utama membangun peradaban)
Penelitian; tindak kejahatan mayoritas mereka yang berpendidikan rendah.
Kebodohan musuh utama islam, misi islam masyarakat ilmiah; ilmu amaliah
2. Administrative ; system pendidikan nasional yg sentralistik, dampak; hilangnya kreatifitas pendidikan pd tingkat lokal dan out put pendiidkan seringkali mis match dg realitas sosio-kultural yg dihadapi masyarakat
3. Cultural: proses pendidikan. Menempatkan guru dlm posisi yg sangat tinggi. Guru sbg sumber ilmu juga sumber keselamatan.
Pendidikan yg formalistic. Ukuran keberhasilan tdk dilihart dr perubahan tingkah laku melainkan pada skor raport atau ijazah. Dampak; belajar untuk lulus ujian dan mendapatkan ijazah. Banyak kasus2 mafia UN.
Inkonsistensi antara apa yg dipelajari dengan realitas social, cultural dan moral di masyarakat. Korupsi, penipuan. Menyontek lebih bagus disbanding yg tekun belajar. Kontradiksi ini menimbulkan discrepansi pendidikan dengan realitas social dan split personality. Skornya excellent tetapi perilaku keseharian sebaliknya.
Masyarakat madani (civil society) memiliki tiga cirri; kebebasan, persamaan dan toleransi. Malik fajar (1999) masyarakat religious, demokratis-pluralistik; menghargai perbedaan pendapat, keanekaragaman suku, agama dan budaya., tertib dan sadar hukum. Tidak diskriminatif, profesioanal, memiliki tradisi belajar.
Bagaimana pendidikan dapat berperan dlm mewujudkan masyarakat madani: Pendidikan yang membebaskan.secara umum gagasan pendidikan dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok: kelompok psikologis-paedagogis dan politik-ideologis. Kelompok pertama diwakili oleh carl rogers dan para tokoh psikologi humanistic. Kelompok kedua diwakili oleh ivan illich dan Paulo freire.
Rogers (1969) pelajar sebagai human. Implementasinya pertama, Perhatian lebih besar pada aspek pengembangan pikiran dan perasaan dibandingkan materi pembelajaran. Kedua, pengembangan kepribadian dan identitas individual melalui komunikasi dan penghargaan yg tinggi kepada pelajar.
Konsep pendidikan humanis tersebut jelas menempatkan pelajar sebagai individu yg “bebas”, mereka bebasa menentukan pilihan mengenai apa yg ingin dipelajari dan memiiiuh cara yg terbaik memperoleh apa yg diinginkan.
Freire: pendidikan seharusnya mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan. Tapi ternyata pendidikan telah berperan sebagai alat penindasan bagi kekuasaan. Sekolah hanya menjadi penguat bagi munculnya hak2 istimewa bagi kelompok tertentu.
*Disampaikan saat Stadium General MUSYKOM IMM Psikologi
Dari berbagai sumber
Ausebel (1965) menyebut status orang dewasa sebagai status primer, artinya status itu diperoleh berdasarkan kemampuan dan usaha sendiri. Status anak adalah status diperoleh (derived), artinya tergantung daripada apa yang diberikan oleh orang tua (dan masyarakat). Remaja ada dalam status interim sebagai akibat daripada posisi yang diberikan oleh orang tua dan sebagian diperoleh melalui usaha sendiri. Suatu pendidikan emansipatoris (yang memandirikan). akan berusaha melepaskan remaja dari status interimnya supaya ia dapat menjadi dewasa yang bertanggungjawab. (Masa remaja yang diperpendek, masa remaja yang diperpanjang. Adolesensi (dalam perkembangan menjadi dewsaa). Secara global 12-21 masa remaja. 12-15 remaja awal, 15-18 masa remaja pertengahan, 18-21 masa remaja akhir. Levinsin dkk (1978) masa anak dan masa remaja (0-22), dewasa awal 17-45, dewasa madya 40-65, dewasa akhir 60 keatas.
Dalam buku-buku angelsaksis (Hill/Monks 1977) istilah “pemuda” (youth) memperoleh arti yg baru yaitu suatu masa peralihan antara masa remaja dan masa dewasa. Dalam buku tersebut akan dijumpai pemisahan antara adolesensi (12-18) dan masa pemuda (19-24).
Remplein (1962) “jugencrise” (krisis remaja) adanya penyimpangan masa pubertas. Pubertas 12-16 tahun laki2 dan 11-15 wanita
Memanfaatkan waktu luang: Originalitas remaja Brightbill (1966) remaja lebih banyak mengalami kesukaran dlm memanfaatkan waktu luangnya daripada anak-anak. Remaja dapat melepaskan kelebihan energinya dalam berolahraga dan dalam menemukan identitasnya, dapat membandingkan kemampuan dengan teman2 dlm mencari identitas dan dominasi yang pada anak laki2 lebih berkolerasi dengan prestasi olah raga (Wersfeld dkk., 1983)
Sekilas sejarah Pemuda Indonesia:
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia. Yaitu, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan
PERTAMA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
Sekilas Tokoh2 Muda:
MAHMOUD AHMADINEJAD/AHMADINEZHAD (LAHIR 28 OKTOBER 1956) ADALAH PRESIDEN IRAN YANG KEENAM. JABATAN KEPRESIDENANNYA DIMULAI PADA 3 AGUSTUS 2005. LAHIR DI DESA PERTANIAN ARADAN, DEKAT GARMSAR, SEKITAR 100 KM DARI TEHERAN, SEBAGAI PUTRA SEORANG PANDAI BESI.
BARACK HUSSEIN OBAMA (LAHIR 4 AGUSTUS 1961) ADALAH PRESIDEN KE 44 AMERIKA SERIKAT. DIA ADALAH ORANG AFRICAN AMERICAN PERTAMA YANG MEMEGANG JABATAN PENTING SEBAGAI PRESIDEN AMERIKA SERIKAT. (3 JANUARI 2005).
PRESIDEN PERTAMA REPUBLIK INDONESIA, SOEKARNO YANG BIASA DIPANGGIL BUNG KARNO, LAHIR DI BLITAR, JAWA TIMUR, 6 JUNI 1901 DAN MENINGGAL DI JAKARTA, 21 JUNI 1970 20 JANUARI 2009
MOHAMMAD HATTA LAHIR PADA TANGGAL 12 AGUSTUS 1902 DI BUKITTINGGI.
Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia
Muhammad SAW: Beliau hidup di dunia ini selama enam puluh tiga tahun. Kita dapat mengklasifikasikan usia beliau yang penuh berkah ini dalam tiga klasifikasi besar:
- Empat puluh tahun pertama hingga pengangkatan menjadi nabi.
- Tiga puluh tahun masa kenabian hingga beliau hijrah ke Madinah.
Mengenai Belajar:
Scinner, proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yg belangsung secra progersif.
Chaplin, perubahan tingkah laku yg relative menetap tergantung latihan dan pengalaman
Hintzman, perubahan yg terjadi krn pengalaman yg dpt mempengaruhi tingkah laku
wittig. Perubahan; tingkah laku: pengalamanan
Abdul Mu’ti: Tiga persoalan pendidikan di Indonesia:
1. Financial. Realisasi anggaran pendidikan 20 %. Dampak, banyak yg tdk sekolah, buta huruf, lembaga yg dikelola apa adanya (modal utama membangun peradaban)
Penelitian; tindak kejahatan mayoritas mereka yang berpendidikan rendah.
Kebodohan musuh utama islam, misi islam masyarakat ilmiah; ilmu amaliah
2. Administrative ; system pendidikan nasional yg sentralistik, dampak; hilangnya kreatifitas pendidikan pd tingkat lokal dan out put pendiidkan seringkali mis match dg realitas sosio-kultural yg dihadapi masyarakat
3. Cultural: proses pendidikan. Menempatkan guru dlm posisi yg sangat tinggi. Guru sbg sumber ilmu juga sumber keselamatan.
Pendidikan yg formalistic. Ukuran keberhasilan tdk dilihart dr perubahan tingkah laku melainkan pada skor raport atau ijazah. Dampak; belajar untuk lulus ujian dan mendapatkan ijazah. Banyak kasus2 mafia UN.
Inkonsistensi antara apa yg dipelajari dengan realitas social, cultural dan moral di masyarakat. Korupsi, penipuan. Menyontek lebih bagus disbanding yg tekun belajar. Kontradiksi ini menimbulkan discrepansi pendidikan dengan realitas social dan split personality. Skornya excellent tetapi perilaku keseharian sebaliknya.
Masyarakat madani (civil society) memiliki tiga cirri; kebebasan, persamaan dan toleransi. Malik fajar (1999) masyarakat religious, demokratis-pluralistik; menghargai perbedaan pendapat, keanekaragaman suku, agama dan budaya., tertib dan sadar hukum. Tidak diskriminatif, profesioanal, memiliki tradisi belajar.
Bagaimana pendidikan dapat berperan dlm mewujudkan masyarakat madani: Pendidikan yang membebaskan.secara umum gagasan pendidikan dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok: kelompok psikologis-paedagogis dan politik-ideologis. Kelompok pertama diwakili oleh carl rogers dan para tokoh psikologi humanistic. Kelompok kedua diwakili oleh ivan illich dan Paulo freire.
Rogers (1969) pelajar sebagai human. Implementasinya pertama, Perhatian lebih besar pada aspek pengembangan pikiran dan perasaan dibandingkan materi pembelajaran. Kedua, pengembangan kepribadian dan identitas individual melalui komunikasi dan penghargaan yg tinggi kepada pelajar.
Konsep pendidikan humanis tersebut jelas menempatkan pelajar sebagai individu yg “bebas”, mereka bebasa menentukan pilihan mengenai apa yg ingin dipelajari dan memiiiuh cara yg terbaik memperoleh apa yg diinginkan.
Freire: pendidikan seharusnya mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan. Tapi ternyata pendidikan telah berperan sebagai alat penindasan bagi kekuasaan. Sekolah hanya menjadi penguat bagi munculnya hak2 istimewa bagi kelompok tertentu.
*Disampaikan saat Stadium General MUSYKOM IMM Psikologi
Dari berbagai sumber
Jumat, 24 Desember 2010
Mengaku Satu (Satu Tujuan, Satu Ikatan Akademisi Islam), Meyakini YANG SATU, Menuju Ilmu yang Padu.
Anggina Oktapia Latief
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) terlahir dari rahim persyarikatan Muhammadiyah yang kehadirannya dinanti dan perjuangannya diamati. Layaknya seorang anak yang berusia 46 tahun, ia seharusnya telah mampu hidup diatas kakinya sendiri bahkan mampu menghidupi orang lain serta telah memiliki kepribadian yang matang. Sangat mungkin bagi yang berusia 46 tahun harus lebih mempersiapkan diri menjelang masa tuanya, namun tidak demikian dengan IMM, IMM tidak akan pernah tua dimakan masa, meski usianya kelak akan terus bertambah namun hal tersebut bukan menjadi alasan bagi IMM untuk rapuh dan pasarah karena ia memiliki peran penting dalam membentuk masyrakat Islam yang sebenar-benarnya yakni membentuk akademisi Islam yang berakhlaq mulia.
Akademisi Islam merupakan bagian dari kepribadian seorang muslim yang terwujud dengan optimalnya peran cipta atau ’aql. ’Aql mampu memperoleh pengetahuan melalui daya argumentatif, (Hartati, dkk., 2004). Daya argumentatif termunculkan melaui suatu proses belajar yang melibatakan pembelajar dan pengajar serta media dan metode pembelajaran. IMM sebagai gerakan intelektual perlu kiranya memaksiamalkan perannya sebagai wadah yang melahirkan akademisi-akademisi Islam melalui proses pembelajaran yang tentunya sangat dekat dengan lingkungan kader-kader IMM yakni, kampus. Kampus bagi pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar tempat bernaung saat menerima transfer informasi atau ilmu dari dosen atau penagajar lainnya, namun kampus dijadikan mereka sebagai tempat belajar dan mempelajari setiap sendi kehidupan yang tergambar melalui gerak-gerik dan diamnya civitas akademika, perilaku dan sikap pegawai atau karyawan serta kebijakan dan peraturan yang mengarahkan atau bahkan memenjarakan penghuni kampus itu sendiri. Sampah, asap rokok, kondisi tolilet, perpustakaan dan tempat beribadah menjadi ’bacaan’ yang menarik untuk dipelajari mahasiswa suatu pergerakan yang juga IMM termasuk didalamnya. Proses belajar tersebut menjadi wajib sebetulnya bagi setiap penghuni kampus hanya saja, masing-masing mereka tidak semua mewajibkan diri untuk terlibat belajar didalamnya. Maka, bagi IMM hal tersebut bukan merupakan himbauan atau ajakan, namun suatu kewajiban yang sangat menguntungkan agar pencapaian tujuannya tercapai dengan cepat dan tepat serta bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat. Dengan belajarnya IMM kepada setiap apa yang ada disekitarnya, minimal kampus atau dunia mahasiswa, maka akan menjadikan potensi akalnya termaksimalkan yang kemudian memicu gerak tubuh dan gerak lisannya untuk berbuat kebaikan yang semakin banyak serta menggerakkan pintu hati untuk semakin terbuka sehingga apa yang ada didalam (hati) nya, semakin jelas ’terlihat’, -apa yang ada didalam hati- menurut Riyadi (2008) adalah ruh, ruh yang mampu memancarkan nur Allah yang dapat mengendalikan jasad fisik. Tetapi bila hati manusia penuh dengan kotoran, maka akan dapat mengelabui akal untuk selalu berbuat kejahatan. Dengan demikian hubungan hati dan akal sangat erat, sehingga tidak cukup sesorang memiliki kecerdasan intelegensi saja, namun harus dibarengi dengan kecerdasan emosi.
IMM dengan potensi sumber daya mahasisawanya harus mampu mengambil peran lebih maksimal dalam mewujudkan suatu kehidupan yang sejahtera. Pemanfaatan potensi ini dapat dimulai dengan membiasakan diri untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dibangku kuliha yang kemudian pembelajaran tersebut teraplikasikan dalam keseharian yang selam pembelajarannya beriringan dengan interaksi diri terhadap lingkungan sekitar yang meliputi lingkungan sosial dan non sosial yang akan semakin mempercepat pencapaian proses pembelajaran pada hasil yang maksimal. Mahasiswa Muhammadiyah menjadi tongkat perjuangan persyarikatan yang tiada pernah berakhir, tongkat ini haruslah dibuat dari bahan yang kuat karena ia akan menopang amanah yang cukup berat, kekuatan ini dapat diperoleh melalui daya kritis mahsiswa pada ilmu-ilmu yang didapatkannya dari proses pembelajarannya di dunia kampus, tongkat ini pun harus memiliki ukuran yang sesuai dengan pengguna agar tidak malah menyulitkan saat digunakan dan jauh dari kemanfaatan, maka IMM dalam pergerakkannya perlu menysuaikan diri dengan Muhammadiyah tanpa harus mematikan daya kreatifitas dan kekritisannya, terlebih tongkat ini harus berdaya guna tidak hanya sebagai penopang tubuh ’sang ayah’ yang tengah berusia 100 tahun, namun ia harus mampu menjadi penjaga saat ’sang ayah’ harus berjalan digelapnya malam atau remang-remangnya lampu jalanan yang dapat membantu langkah kakinya agar tidak terantuk batu, menginjak duri atau tersandung kedalam lubang, meski penglihatannya masih baik, dalam hal ini IMM kiranya harus mampu lebih tajam membaca kodisi masyarakat saat ini yang sangat cepat mengalami perubahan, perubahan-perubahan masyarakat dapat mudah terlihat gambaranya melalui tingkah laku dan gaya hidup serta cara berfikir mahasiswa dikampus yang sangat bersentuhan dengan IMM sehingga baik IMM maupaun Muhammadiyah akan lebh reaktif dalam bergerak. Gerakan yang diharapkan muncul adalah gerakan yang cepat dan tepat.
Cepatnya gerakan atau respon dan ketepatannya bukan suatu hal yang dapat diperoleh melalui sekedar mengikuti pelatihan atau kursus singkat, namun dalam hal ini sangat diperlukan pembiasaan, lebih tepatnya pembiasaan dari suatu pengetahuan dan dasar yang benar. Upaya pembiasaan yang berhasil akan terlihat dari kepribadian dan akhlak yang muncul pada orang yang mengupayakan tersebut. Baik-buruknya kepribadian dan akhlak dipengaruhi pula oleh kerja akal seperti yang telah disebutkan diatas, sehingga perlu kiranya IMM yang berlandasakan Al-quran dan As-sunnah mempelajari dasar hidupnya dengan akal sehat dan cerdas, memahami makna yang tersirat didalamnya dengan hati dan keyakinan kuat pada pemberi keduanya, serta mengupayakan secara maksimal pengamalan dari apa-apa yang didapatkannya kedalam kehidupannya dan kehidupan disekitarnya.
Setelah mencoba menjadi ’tongkat’ yang kuat, serasi dan berdaya guna dengan bahan dasar kefahaman terhadap Al-quran dan As-sunnah, perlu kiranya IMM mencoba memantaskan diri sebagai ’diri’ yang diamanahi beramar ma’ruf nahyi munkar disetiap geraknya. Amar ma’ruf nahyi munkar adalah tugas setiap umat manusia terutama umat muslim sebagai uapaya meneguhkan kedudukan mereka dihadapan Allah. Sebagaimana firman Allah SWT.:
”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
[Q.S. Muhammad (47) : 7]
Tugas beramar ma’ruf nahyi munkar akan optimal bilamana pelaksana memahami ajaran agama Islam terlebih dahulu sebagai modal utama. Ajaran agama Islam merupakan ilmu yang tiada pernah ada habisnya meskipun seiring berjalannya waktu ilmu tersebut akan terkikis secara perlahan, bahkan tertutup atau terhalang oleh pengikutnya sendiri seperti yang pernah dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali. Ilyas (2009), mengelompokkan ilmu menjadi dua bagian. Pertama, ilmu-ilmu kealaman (al-’ulum al-kauniyah), baik eksak maupun sosial yang secara dikotomis disebut ilmu umum. Kedua, ilmu-ilmu kewahyuan (al-’ulum al-qauliyah) yang lagi-lagi secara dikotomis disebut ilmu-ilmu agama. Islam mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut kedua macam ilmu tersebut. Namun sifat wajibnya ada yang ’aini (kewajiban individual) dan ada yang kifayah (kewajiban kolektif). Mempelajari segala sesuatu sebatas mengenal kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan bagi seorang Muslim hukumnya fardhu’ain.
Melihat hukum menuntut ilmu tersebut maka IMM maupun Muhamadiyah sebgai firqoh (golongan kaum muslimin) memiliki kewajiban tersendiri, begitu pula setiap anggota IMM maupun Muhammadiyah masing-masing memiliki kewajiban individu. IMM sebagai firqoh perlu menguatkan perannya sebagai pemenuhan kebutuhan masyrakat atau umat secara luas dan juga sebagai bentuk kepatuhan kepada perinta Allah SWT., yang terdapat dalam Q.S. At taubah:122: ”Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. Ilyas (2009), menafsirkan ayat tersebut, jihad fii sabilillah tidak diragukan lagi merupakan seutama-utama amalan. Pahalanya sangat besar. Siapa yang gugur dalam perang suci tersebut dicatat sebagai syahid dan akan masuk sorga tanpa hisab. Namun demikian, Allah tetap tidak mengizinkan semua kaum Muslimin pergi berperang tanpa ada yang tinggal mendalami ajaran agama Islam atau tafaqquh fid din.
Mendalami ajaran agama Islam sudah jelas merupakan kewajiban umat muslim baik secara individu maupun kelompok dengan hukumnya masing-masing. Urgensi pembelajaran pendidkan agama Islam pun sudah lama terasa oleh Muhammadiyah karena hal tersebut merupakan suatu kebuthan yang mendasar pula. Muhammadiyah pernah dan masih memilki gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah (GJDJ) yang diharap dapat terus memperpanjang dan memperluas gerakan pemurnian aqiedahnya. GJDJ memulai proses pembeljarannya dengan perlahan menanamkan pokok-pokok ajaran Islam yang meliputi empat aspek:
1. Aqiedah: Aspek keyakinan terhadap Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rosul, hari akhir dan taqdir.
2. Ibadah: segala caradan upacara pengabdian kepada Allah (ritual) yang telah diperintahkan dan diatur tata cara pelaksanaannya dalam Al-quran dan sunnah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
3. Akhlaq: Nilai dan perilaku baik harus diikuti perilaku sabar, syukur, tawakkal, berbakti kepada kedua orang tua, berani dan lain sebagainya, serta nilai dan perilaku buruk yang harus dijauhi seperti sombong, takabur, dengki, riya, durhaka kepada kedua orang tua dan lain sebagainya.
4. Mu’ammalah: Aspek kemasyarakatan yang mengatur pergaulan hidup manusia di atas bumi, baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antara negara dan lain-lain sebagainya.(Ilyas, 2009).
Gerakan ini kini memudar bahkan tergantikan dengan beragam persoalan-persoalan lain, dapat sedikit dimaklumi ketika GJDJ tergeser karena mungkin Muhammadiyah harus berupaya keras dulu untuk mengadaptasikan metode ini kepada masyarakat luas, namun yang disayangkan adalah ketika gerakan ini tergeser oleh kepentingan internal. Begitu pula IMM yang memiliki wahana yang lebih memungkinkan untuk ’bermain’ dengan GJDJ nya, namun kini tergeser oleh persoalan-persoalan internal, terlebih pada IMM yang berbasiskan anggota dari PTM yang secara kuantitas memiliki basis masa besar dan diberikan ruang gerak seluas-luasnya dalam beraktifitas IMM oleh pihak PTM, terkadang membuat IMM semakin asik dengan dirinya sendiri, bercengkrama dengan persoalan-persoalan yang dihadapi segenap anggota, sibuk dengan upaya-upaya konsolidasi kedalam yang disadari atau tidak, semakin memberi peluang bagi menguatnya rasa ketergantungan kepada lembaganya, (Pakkanna, 2007). Hal tersebut menjadikan IMM tidak mandiri dan lemah dalam melahirkan kader persyerikatan dan ditambah pula dengan hilangnya budaya GJDJ yang sebetulnya sangat dimungkinkan dapat menjadi mediator yang mampu menggawangi terlahirnya kader-kader persyerikatan maupun ikatan dan sebagai wahana yang mampu membentuk suatu keluarga yang merupakan bibit-bibit subur bagi pencapaian tujuan menciptakan masyrakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dengan demikian, IMM yang kelahirannya merupakan suatu upaya perluasan dakwah Muhammadiyah akan mencapai kekokohan peran dan matangnya kepribadian manakala IMM bergerak beriringan dengan Muhammadiyah dengan basis keilmuannya yang disalurkan melalui ranah kemahasiswaan, kemasyarakatan dan keagamaan dengan terus dipupuk oleh keimanan pada YANG SATU serta menjadikan waktu-waktu yang dilaluinya sebagai bentuk tafaqquh fid din melalui ilmu alam dan ilmu wahyuNya, untuk kemudian meneruskan ilmu yang didapatnya kapada sebanayak-banyak umat agar generasi pembela Islam terus berkembang secara kuantitas dan kualitas, yang dengannya tujuan bersama untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya akan tercapai.
Mengaku berbangsa satu; bangsa yang mencita-citakan keadailan; Mengaku berbahsa satu; bahasa kebenaran; Mengaku bertanah air satu; tanah air tanpa penindasan.
-Ikrar IMM-
(Malang, 31 Maret 2002)
Daftar Pustaka
Al-quran.
Bidang Keilmuan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 2007. Tri Kompetensi Dasar: Peneguhan Jati Diri Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Jakarta: Bidang Keilmuan DPP IMM, 2007.
Hartati, N., Nihayah, Z., Shaleh, A. R., Mujib, A. 2004. Islam dan Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Ilyas, Y. 2009. Cakrawala Al-quran; Tafsir Tematis Berbagai Aspek Kehidupan. Yogyakarta: Itqan Publishing.
Ilyas, Y. 2007. Tipologi Manusia Menurut Al-quran. Yogyakarta: LABDA PERSS.
Riyadi, A.A. 2008. Psikologi Sufi Al-Ghazali. Yogyakarta: Panji Pustaka.
Akhir Oktober 2010 di Yogyakarta,
2:06 pm
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) terlahir dari rahim persyarikatan Muhammadiyah yang kehadirannya dinanti dan perjuangannya diamati. Layaknya seorang anak yang berusia 46 tahun, ia seharusnya telah mampu hidup diatas kakinya sendiri bahkan mampu menghidupi orang lain serta telah memiliki kepribadian yang matang. Sangat mungkin bagi yang berusia 46 tahun harus lebih mempersiapkan diri menjelang masa tuanya, namun tidak demikian dengan IMM, IMM tidak akan pernah tua dimakan masa, meski usianya kelak akan terus bertambah namun hal tersebut bukan menjadi alasan bagi IMM untuk rapuh dan pasarah karena ia memiliki peran penting dalam membentuk masyrakat Islam yang sebenar-benarnya yakni membentuk akademisi Islam yang berakhlaq mulia.
Akademisi Islam merupakan bagian dari kepribadian seorang muslim yang terwujud dengan optimalnya peran cipta atau ’aql. ’Aql mampu memperoleh pengetahuan melalui daya argumentatif, (Hartati, dkk., 2004). Daya argumentatif termunculkan melaui suatu proses belajar yang melibatakan pembelajar dan pengajar serta media dan metode pembelajaran. IMM sebagai gerakan intelektual perlu kiranya memaksiamalkan perannya sebagai wadah yang melahirkan akademisi-akademisi Islam melalui proses pembelajaran yang tentunya sangat dekat dengan lingkungan kader-kader IMM yakni, kampus. Kampus bagi pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar tempat bernaung saat menerima transfer informasi atau ilmu dari dosen atau penagajar lainnya, namun kampus dijadikan mereka sebagai tempat belajar dan mempelajari setiap sendi kehidupan yang tergambar melalui gerak-gerik dan diamnya civitas akademika, perilaku dan sikap pegawai atau karyawan serta kebijakan dan peraturan yang mengarahkan atau bahkan memenjarakan penghuni kampus itu sendiri. Sampah, asap rokok, kondisi tolilet, perpustakaan dan tempat beribadah menjadi ’bacaan’ yang menarik untuk dipelajari mahasiswa suatu pergerakan yang juga IMM termasuk didalamnya. Proses belajar tersebut menjadi wajib sebetulnya bagi setiap penghuni kampus hanya saja, masing-masing mereka tidak semua mewajibkan diri untuk terlibat belajar didalamnya. Maka, bagi IMM hal tersebut bukan merupakan himbauan atau ajakan, namun suatu kewajiban yang sangat menguntungkan agar pencapaian tujuannya tercapai dengan cepat dan tepat serta bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat. Dengan belajarnya IMM kepada setiap apa yang ada disekitarnya, minimal kampus atau dunia mahasiswa, maka akan menjadikan potensi akalnya termaksimalkan yang kemudian memicu gerak tubuh dan gerak lisannya untuk berbuat kebaikan yang semakin banyak serta menggerakkan pintu hati untuk semakin terbuka sehingga apa yang ada didalam (hati) nya, semakin jelas ’terlihat’, -apa yang ada didalam hati- menurut Riyadi (2008) adalah ruh, ruh yang mampu memancarkan nur Allah yang dapat mengendalikan jasad fisik. Tetapi bila hati manusia penuh dengan kotoran, maka akan dapat mengelabui akal untuk selalu berbuat kejahatan. Dengan demikian hubungan hati dan akal sangat erat, sehingga tidak cukup sesorang memiliki kecerdasan intelegensi saja, namun harus dibarengi dengan kecerdasan emosi.
IMM dengan potensi sumber daya mahasisawanya harus mampu mengambil peran lebih maksimal dalam mewujudkan suatu kehidupan yang sejahtera. Pemanfaatan potensi ini dapat dimulai dengan membiasakan diri untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dibangku kuliha yang kemudian pembelajaran tersebut teraplikasikan dalam keseharian yang selam pembelajarannya beriringan dengan interaksi diri terhadap lingkungan sekitar yang meliputi lingkungan sosial dan non sosial yang akan semakin mempercepat pencapaian proses pembelajaran pada hasil yang maksimal. Mahasiswa Muhammadiyah menjadi tongkat perjuangan persyarikatan yang tiada pernah berakhir, tongkat ini haruslah dibuat dari bahan yang kuat karena ia akan menopang amanah yang cukup berat, kekuatan ini dapat diperoleh melalui daya kritis mahsiswa pada ilmu-ilmu yang didapatkannya dari proses pembelajarannya di dunia kampus, tongkat ini pun harus memiliki ukuran yang sesuai dengan pengguna agar tidak malah menyulitkan saat digunakan dan jauh dari kemanfaatan, maka IMM dalam pergerakkannya perlu menysuaikan diri dengan Muhammadiyah tanpa harus mematikan daya kreatifitas dan kekritisannya, terlebih tongkat ini harus berdaya guna tidak hanya sebagai penopang tubuh ’sang ayah’ yang tengah berusia 100 tahun, namun ia harus mampu menjadi penjaga saat ’sang ayah’ harus berjalan digelapnya malam atau remang-remangnya lampu jalanan yang dapat membantu langkah kakinya agar tidak terantuk batu, menginjak duri atau tersandung kedalam lubang, meski penglihatannya masih baik, dalam hal ini IMM kiranya harus mampu lebih tajam membaca kodisi masyarakat saat ini yang sangat cepat mengalami perubahan, perubahan-perubahan masyarakat dapat mudah terlihat gambaranya melalui tingkah laku dan gaya hidup serta cara berfikir mahasiswa dikampus yang sangat bersentuhan dengan IMM sehingga baik IMM maupaun Muhammadiyah akan lebh reaktif dalam bergerak. Gerakan yang diharapkan muncul adalah gerakan yang cepat dan tepat.
Cepatnya gerakan atau respon dan ketepatannya bukan suatu hal yang dapat diperoleh melalui sekedar mengikuti pelatihan atau kursus singkat, namun dalam hal ini sangat diperlukan pembiasaan, lebih tepatnya pembiasaan dari suatu pengetahuan dan dasar yang benar. Upaya pembiasaan yang berhasil akan terlihat dari kepribadian dan akhlak yang muncul pada orang yang mengupayakan tersebut. Baik-buruknya kepribadian dan akhlak dipengaruhi pula oleh kerja akal seperti yang telah disebutkan diatas, sehingga perlu kiranya IMM yang berlandasakan Al-quran dan As-sunnah mempelajari dasar hidupnya dengan akal sehat dan cerdas, memahami makna yang tersirat didalamnya dengan hati dan keyakinan kuat pada pemberi keduanya, serta mengupayakan secara maksimal pengamalan dari apa-apa yang didapatkannya kedalam kehidupannya dan kehidupan disekitarnya.
Setelah mencoba menjadi ’tongkat’ yang kuat, serasi dan berdaya guna dengan bahan dasar kefahaman terhadap Al-quran dan As-sunnah, perlu kiranya IMM mencoba memantaskan diri sebagai ’diri’ yang diamanahi beramar ma’ruf nahyi munkar disetiap geraknya. Amar ma’ruf nahyi munkar adalah tugas setiap umat manusia terutama umat muslim sebagai uapaya meneguhkan kedudukan mereka dihadapan Allah. Sebagaimana firman Allah SWT.:
”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
[Q.S. Muhammad (47) : 7]
Tugas beramar ma’ruf nahyi munkar akan optimal bilamana pelaksana memahami ajaran agama Islam terlebih dahulu sebagai modal utama. Ajaran agama Islam merupakan ilmu yang tiada pernah ada habisnya meskipun seiring berjalannya waktu ilmu tersebut akan terkikis secara perlahan, bahkan tertutup atau terhalang oleh pengikutnya sendiri seperti yang pernah dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali. Ilyas (2009), mengelompokkan ilmu menjadi dua bagian. Pertama, ilmu-ilmu kealaman (al-’ulum al-kauniyah), baik eksak maupun sosial yang secara dikotomis disebut ilmu umum. Kedua, ilmu-ilmu kewahyuan (al-’ulum al-qauliyah) yang lagi-lagi secara dikotomis disebut ilmu-ilmu agama. Islam mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut kedua macam ilmu tersebut. Namun sifat wajibnya ada yang ’aini (kewajiban individual) dan ada yang kifayah (kewajiban kolektif). Mempelajari segala sesuatu sebatas mengenal kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan bagi seorang Muslim hukumnya fardhu’ain.
Melihat hukum menuntut ilmu tersebut maka IMM maupun Muhamadiyah sebgai firqoh (golongan kaum muslimin) memiliki kewajiban tersendiri, begitu pula setiap anggota IMM maupun Muhammadiyah masing-masing memiliki kewajiban individu. IMM sebagai firqoh perlu menguatkan perannya sebagai pemenuhan kebutuhan masyrakat atau umat secara luas dan juga sebagai bentuk kepatuhan kepada perinta Allah SWT., yang terdapat dalam Q.S. At taubah:122: ”Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. Ilyas (2009), menafsirkan ayat tersebut, jihad fii sabilillah tidak diragukan lagi merupakan seutama-utama amalan. Pahalanya sangat besar. Siapa yang gugur dalam perang suci tersebut dicatat sebagai syahid dan akan masuk sorga tanpa hisab. Namun demikian, Allah tetap tidak mengizinkan semua kaum Muslimin pergi berperang tanpa ada yang tinggal mendalami ajaran agama Islam atau tafaqquh fid din.
Mendalami ajaran agama Islam sudah jelas merupakan kewajiban umat muslim baik secara individu maupun kelompok dengan hukumnya masing-masing. Urgensi pembelajaran pendidkan agama Islam pun sudah lama terasa oleh Muhammadiyah karena hal tersebut merupakan suatu kebuthan yang mendasar pula. Muhammadiyah pernah dan masih memilki gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah (GJDJ) yang diharap dapat terus memperpanjang dan memperluas gerakan pemurnian aqiedahnya. GJDJ memulai proses pembeljarannya dengan perlahan menanamkan pokok-pokok ajaran Islam yang meliputi empat aspek:
1. Aqiedah: Aspek keyakinan terhadap Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rosul, hari akhir dan taqdir.
2. Ibadah: segala caradan upacara pengabdian kepada Allah (ritual) yang telah diperintahkan dan diatur tata cara pelaksanaannya dalam Al-quran dan sunnah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
3. Akhlaq: Nilai dan perilaku baik harus diikuti perilaku sabar, syukur, tawakkal, berbakti kepada kedua orang tua, berani dan lain sebagainya, serta nilai dan perilaku buruk yang harus dijauhi seperti sombong, takabur, dengki, riya, durhaka kepada kedua orang tua dan lain sebagainya.
4. Mu’ammalah: Aspek kemasyarakatan yang mengatur pergaulan hidup manusia di atas bumi, baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antara negara dan lain-lain sebagainya.(Ilyas, 2009).
Gerakan ini kini memudar bahkan tergantikan dengan beragam persoalan-persoalan lain, dapat sedikit dimaklumi ketika GJDJ tergeser karena mungkin Muhammadiyah harus berupaya keras dulu untuk mengadaptasikan metode ini kepada masyarakat luas, namun yang disayangkan adalah ketika gerakan ini tergeser oleh kepentingan internal. Begitu pula IMM yang memiliki wahana yang lebih memungkinkan untuk ’bermain’ dengan GJDJ nya, namun kini tergeser oleh persoalan-persoalan internal, terlebih pada IMM yang berbasiskan anggota dari PTM yang secara kuantitas memiliki basis masa besar dan diberikan ruang gerak seluas-luasnya dalam beraktifitas IMM oleh pihak PTM, terkadang membuat IMM semakin asik dengan dirinya sendiri, bercengkrama dengan persoalan-persoalan yang dihadapi segenap anggota, sibuk dengan upaya-upaya konsolidasi kedalam yang disadari atau tidak, semakin memberi peluang bagi menguatnya rasa ketergantungan kepada lembaganya, (Pakkanna, 2007). Hal tersebut menjadikan IMM tidak mandiri dan lemah dalam melahirkan kader persyerikatan dan ditambah pula dengan hilangnya budaya GJDJ yang sebetulnya sangat dimungkinkan dapat menjadi mediator yang mampu menggawangi terlahirnya kader-kader persyerikatan maupun ikatan dan sebagai wahana yang mampu membentuk suatu keluarga yang merupakan bibit-bibit subur bagi pencapaian tujuan menciptakan masyrakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dengan demikian, IMM yang kelahirannya merupakan suatu upaya perluasan dakwah Muhammadiyah akan mencapai kekokohan peran dan matangnya kepribadian manakala IMM bergerak beriringan dengan Muhammadiyah dengan basis keilmuannya yang disalurkan melalui ranah kemahasiswaan, kemasyarakatan dan keagamaan dengan terus dipupuk oleh keimanan pada YANG SATU serta menjadikan waktu-waktu yang dilaluinya sebagai bentuk tafaqquh fid din melalui ilmu alam dan ilmu wahyuNya, untuk kemudian meneruskan ilmu yang didapatnya kapada sebanayak-banyak umat agar generasi pembela Islam terus berkembang secara kuantitas dan kualitas, yang dengannya tujuan bersama untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya akan tercapai.
Mengaku berbangsa satu; bangsa yang mencita-citakan keadailan; Mengaku berbahsa satu; bahasa kebenaran; Mengaku bertanah air satu; tanah air tanpa penindasan.
-Ikrar IMM-
(Malang, 31 Maret 2002)
Daftar Pustaka
Al-quran.
Bidang Keilmuan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 2007. Tri Kompetensi Dasar: Peneguhan Jati Diri Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Jakarta: Bidang Keilmuan DPP IMM, 2007.
Hartati, N., Nihayah, Z., Shaleh, A. R., Mujib, A. 2004. Islam dan Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Ilyas, Y. 2009. Cakrawala Al-quran; Tafsir Tematis Berbagai Aspek Kehidupan. Yogyakarta: Itqan Publishing.
Ilyas, Y. 2007. Tipologi Manusia Menurut Al-quran. Yogyakarta: LABDA PERSS.
Riyadi, A.A. 2008. Psikologi Sufi Al-Ghazali. Yogyakarta: Panji Pustaka.
Akhir Oktober 2010 di Yogyakarta,
2:06 pm
Sabtu, 09 Oktober 2010
Darul Arqam Madya (DAM) PC. IMM Djazman Al-Kindi Kota Yogyakarta 2010
“ Terbentuknya Kader Pemberdaya Masyarakat dalam Perspektif Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi”
I. Dasar Pemikiran
Dinamika perkembangan zaman dengan segala problematikanya harus kita pahami agar kita tidak menjadi kekuatan pelengkap saja. Akan tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam arus perkembangan sehingga kita dapat membentuk tatanan nilai dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan berumat.
Ghazwul fikr adalah bagian dari dinamika yang harus menjadi perhatian serius bagi kita sebagai agen kekuatan bangsa, mengingat dari sinilah benih peradaban tumbuh berkembang menjadi sesuatu yang riil. Tanpa disadari saat ini masyarakat kita terutama umat Islam hampir kalah telak dalam melawan perang pemikiran yang dilancarkan oleh musuh Islam (kaum kafir dan materialis). Masyarakat terjebak pada simbol-simbol yang bukan menjadi identitasnya.
Masyarakat berkiblat pada tata sistem nilai barat yang sesungguhnya berbeda jauh dari nilai-nilai yang seharusnya kita junjung, Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa umat Islam sedang mengalami split personality (kepribadian yang terpecah. Sehingga tidak heran bila kita merasa berada dalam sebuah masyarakat yang kering atau kosong. Nilai-nilai Islam yang seharusnya diyakini seolah-olah tidak mempunyai kekuatan dalam kehidupan.
Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan sebenarnya umat Islam itu tidak lemah, melainkan hanya dilemahkan oleh mereka kaum materialis. Dari sisi kuantitas kita banyak, dari kekayaan alam kita melimpah, dari berfikir umat Islam tidak terlalu kalah. Sehingga, seperti yang dikatakan Syekh Muhammad Husen Fadullahbahwa logika kekuatan kita sedang dilemahkan dan untuk melawannya kita harus kembali meluruskan logika kekuatan masyarakat (umat Islam).
Adalah tugas manusia yang terpanggil yang mengetahui dan memiliki secercah kesadaran, kendatipun baru sedikit. Seperti cahaya bintang di tengah gelapnya malam kezhaliman global dan terpaan angin keserakahan kaum materialis. Cahaya bintang tersebut akan menerangi wilayah sekitar dan bertambah banyak, saling mendukung sehingga menjadi laskar bintang yang akan menerangi kehidupan dan akhirnya kegelapan kezhaliman dapat mengecil dan menghilang.
Ikatan mahasiswa Muhammadiyah dengan potensi dan keterbatasan kemampuan yang dimiliki harus mengambil peranan penting dan menjadi cahaya-cahaya yang dapat menerangi dan mempelopori gerakan pencerahan ini. Untuk itu langkah sekecil apapun harus dilakukan. Salah satunya dengan agenda perkaderan Darul Arqam Madya ini, kekuatan mahasiswa muhammadiyah dapat tumbuh dan akan menjadi kontribusi bagi perkembangan umat ke depan. Semoga Allah SWT menyertai langkah kita. Amin!
II. Nama Kegiatan
Darul Arqam Madya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Djazman Al-kindi Kota Yogyakarta
III. Dasar Kegiatan
1. Al Qur’an dan As Shunnah
2. Pancasila dan UUD 1945
3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
4. Program Kerja Bidang Kader PC IMM Djazman Alkindi 2009-2010
IV. Tujuan Kegiatan
1. Membentuk kader militan yang memiliki kualitas keilmuan dan ketrampilan praksis sosial
2. Membentuk kader yang mampu memahami Islam sekaligus mampu mengaktualisasikannya dalam hidup keseharian.
3. Membangkitkan kesadaran kritis kader terhadap fenomena social yang tengah terjadi.
4. Membentuk karakter dan kepribadian serta mutu anggota hingga mencapai kulaifikasi kader IMM yang mempunyai wawasan tingkat daerah.
V. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Darul Arqam Madya
Waktu : Selasa-Ahad, 19 - 24 Oktober 2010
Tempat : RUSUNAWA UAD
VI. Peserta :
1. Peserta terdiri dari seluruh PC IMM yang berkawasan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
2. Pimpinan Komisariat se-IMM Djazman Al-Kindi.
VII. Bentuk dan Tema Kegiatan
1. Darul Arqam Madya
“Terbentuknya Kader Pemberdaya Masyarakat dalam Perspektif Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi”
Materi :
1. Ideologis (Ke Islaman, Ke Muhammadiyahan, Ke IMMan)
2. Keorganisasian dan Kepemimpinan
3. Wawasan
4. Ketrampilan
5. Muatan Lokal
Pembicara dan Narasumber :
1. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta
2. DPP IMM
3. DPD IMM DIY
4. Tim Instruktur DPD IMM DIY
5. Akademisi dan Praktisi yang berkompeten dalam bidangnya.
Yogyakarta, 22 Syawwal 1431 H
1 Oktober 2010 M
Lampiran 1
Pelindung : Ketua Umum PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta
Penanggung jawab : Bidang Kader PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta
Tim Materi : Tim Instruktur DPD IMM DIY
Lampiran II
SUSUNAN ACARA
WAKTU
(WIB) ACARA PENYAJI
Selasa, 19 Oktober 2010
08.00 – 12.00 Check in dan regristrasi peserta OC
13.00 – 17.00 Seleksi peserta
Pre-test SC
19.30 – 23.00 Orientasi
Ta’aruf
KOntrak belajar SC
Rabu, 20 Oktober 2010
08.00 – 10.30 Pembukaan:
Diskusi Panel “Membangun Kesadaran Kritis, Menebar Aksi Sosial” Pemateri I
10.30 – 12.00 Islam sebagai Agama Tauhid Pemateri II
12.00 – 13.00 ISHOMA
13.00 – 14.30 Membedah Pemikiran Para Tokoh Pemikir Islam Pemateri III
14.30 – 15.30 FGD SC
15.30 – 16.00 Sholat Ashar Imam of Training
16.00 – 17.30 Membedah Pemikiran dan Jejak Para Pendiri dan Tokoh Muhammadiyah Pemateri IV
17.30 – 19.30 Ishoma Imam Training
19.30 – 21.00 Revitalisasi Idiologi Gerakan Muhammadiyah Pemateri V
21.00 – 22.30 Psikologi dan Sosiologi Agama Pemateri VI
22.30 – 24.00 FGD SC
24.00 - … Istirahat tidur
Kamis, 21 Oktober 2010
Shalat Tahajud
Sholat Shubuh
Kuliah Shubuh Imam Training
05.30 – 07.00 Olah Raga OC
07.00 – 08.00 Keperluan pribadi dan makan
08.00 – 09.30 Transformasi Idiologi IMM Pemateri VII
09.30 – 11.30 Profil Kader IMM Pemateri VIII
11.30 – 12.00 Ice Breaking
12.00 – 13.00 Ishoma
13.00 – 14.30 Merumuskan kembali peran IMM dalam Kehidupan Ber-Islam, berMuhammadiyah dan Berbangsa Pemateri IX
14.30 – 15.30 FGD SC
15.30 – 16.00 Sholat Ashar
16.00 – 17.30 Perkembangan Idiologi Besar Dunia dan Pengaruhnya pada Kehidupan masyarakat dan Agama Pemateri X
17.30 – 19.30 Ishoma Imam Training
19.30 – 21.00 Sosiologi dan Antropologi Masyarakat Indonesia Pemateri XI
21.00- 22.30 Strategi Aksi Sosial dalam Masyarakat Pemateri XII
22.30 – 23.00 Refleksi
23.00 - .. Istirahat
Juma'at, 22 Oktober 2010
03.00 – 05.30 Shalat Tahajud
Sholat Shubuh
Kuliah Shubuh Imam Training
05.30 – 07.00 Olah Raga
07.00 – 08.00 Keperluan pribadi dan makan
08.00 – 09.30 Teknik Pembangunan Jaringan (Network Developing Technique) Pemateri XIII
09.30 – 11.30 Game
11.30 – 12.00 Psikologi dan Teknik Kepemimpinan Pemateri XIV
12.00 – 13.00 Penugasan SC
13.00 – 14.30 Ishoma OC
14.30 – 15.30 Studi Kawasan Instruktur, SC, OC
15.30 – 16.00 Sholat Ashar Imam of Training
16.00 – 17.30 Presentasi dan Diskusi SC
17.30 – 19.30 Ishoma OC
19.30 – 22.00 Transendensi Journey Season SC
22.00 – 01.00 Sidang Kelulusan SC
Ahad, 24 Oktober 2010
08.00 – 09.00 Pengumuman Kelulusan
Pemberian Sertifikat
Kontrak Komitmen SC
09.00 – 10.00 Penutupan OC
11.00 - .. Good Bye
I. Dasar Pemikiran
Dinamika perkembangan zaman dengan segala problematikanya harus kita pahami agar kita tidak menjadi kekuatan pelengkap saja. Akan tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam arus perkembangan sehingga kita dapat membentuk tatanan nilai dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan berumat.
Ghazwul fikr adalah bagian dari dinamika yang harus menjadi perhatian serius bagi kita sebagai agen kekuatan bangsa, mengingat dari sinilah benih peradaban tumbuh berkembang menjadi sesuatu yang riil. Tanpa disadari saat ini masyarakat kita terutama umat Islam hampir kalah telak dalam melawan perang pemikiran yang dilancarkan oleh musuh Islam (kaum kafir dan materialis). Masyarakat terjebak pada simbol-simbol yang bukan menjadi identitasnya.
Masyarakat berkiblat pada tata sistem nilai barat yang sesungguhnya berbeda jauh dari nilai-nilai yang seharusnya kita junjung, Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa umat Islam sedang mengalami split personality (kepribadian yang terpecah. Sehingga tidak heran bila kita merasa berada dalam sebuah masyarakat yang kering atau kosong. Nilai-nilai Islam yang seharusnya diyakini seolah-olah tidak mempunyai kekuatan dalam kehidupan.
Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan sebenarnya umat Islam itu tidak lemah, melainkan hanya dilemahkan oleh mereka kaum materialis. Dari sisi kuantitas kita banyak, dari kekayaan alam kita melimpah, dari berfikir umat Islam tidak terlalu kalah. Sehingga, seperti yang dikatakan Syekh Muhammad Husen Fadullahbahwa logika kekuatan kita sedang dilemahkan dan untuk melawannya kita harus kembali meluruskan logika kekuatan masyarakat (umat Islam).
Adalah tugas manusia yang terpanggil yang mengetahui dan memiliki secercah kesadaran, kendatipun baru sedikit. Seperti cahaya bintang di tengah gelapnya malam kezhaliman global dan terpaan angin keserakahan kaum materialis. Cahaya bintang tersebut akan menerangi wilayah sekitar dan bertambah banyak, saling mendukung sehingga menjadi laskar bintang yang akan menerangi kehidupan dan akhirnya kegelapan kezhaliman dapat mengecil dan menghilang.
Ikatan mahasiswa Muhammadiyah dengan potensi dan keterbatasan kemampuan yang dimiliki harus mengambil peranan penting dan menjadi cahaya-cahaya yang dapat menerangi dan mempelopori gerakan pencerahan ini. Untuk itu langkah sekecil apapun harus dilakukan. Salah satunya dengan agenda perkaderan Darul Arqam Madya ini, kekuatan mahasiswa muhammadiyah dapat tumbuh dan akan menjadi kontribusi bagi perkembangan umat ke depan. Semoga Allah SWT menyertai langkah kita. Amin!
II. Nama Kegiatan
Darul Arqam Madya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Djazman Al-kindi Kota Yogyakarta
III. Dasar Kegiatan
1. Al Qur’an dan As Shunnah
2. Pancasila dan UUD 1945
3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
4. Program Kerja Bidang Kader PC IMM Djazman Alkindi 2009-2010
IV. Tujuan Kegiatan
1. Membentuk kader militan yang memiliki kualitas keilmuan dan ketrampilan praksis sosial
2. Membentuk kader yang mampu memahami Islam sekaligus mampu mengaktualisasikannya dalam hidup keseharian.
3. Membangkitkan kesadaran kritis kader terhadap fenomena social yang tengah terjadi.
4. Membentuk karakter dan kepribadian serta mutu anggota hingga mencapai kulaifikasi kader IMM yang mempunyai wawasan tingkat daerah.
V. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Darul Arqam Madya
Waktu : Selasa-Ahad, 19 - 24 Oktober 2010
Tempat : RUSUNAWA UAD
VI. Peserta :
1. Peserta terdiri dari seluruh PC IMM yang berkawasan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
2. Pimpinan Komisariat se-IMM Djazman Al-Kindi.
VII. Bentuk dan Tema Kegiatan
1. Darul Arqam Madya
“Terbentuknya Kader Pemberdaya Masyarakat dalam Perspektif Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi”
Materi :
1. Ideologis (Ke Islaman, Ke Muhammadiyahan, Ke IMMan)
2. Keorganisasian dan Kepemimpinan
3. Wawasan
4. Ketrampilan
5. Muatan Lokal
Pembicara dan Narasumber :
1. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta
2. DPP IMM
3. DPD IMM DIY
4. Tim Instruktur DPD IMM DIY
5. Akademisi dan Praktisi yang berkompeten dalam bidangnya.
Yogyakarta, 22 Syawwal 1431 H
1 Oktober 2010 M
Lampiran 1
Pelindung : Ketua Umum PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta
Penanggung jawab : Bidang Kader PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta
Tim Materi : Tim Instruktur DPD IMM DIY
Lampiran II
SUSUNAN ACARA
WAKTU
(WIB) ACARA PENYAJI
Selasa, 19 Oktober 2010
08.00 – 12.00 Check in dan regristrasi peserta OC
13.00 – 17.00 Seleksi peserta
Pre-test SC
19.30 – 23.00 Orientasi
Ta’aruf
KOntrak belajar SC
Rabu, 20 Oktober 2010
08.00 – 10.30 Pembukaan:
Diskusi Panel “Membangun Kesadaran Kritis, Menebar Aksi Sosial” Pemateri I
10.30 – 12.00 Islam sebagai Agama Tauhid Pemateri II
12.00 – 13.00 ISHOMA
13.00 – 14.30 Membedah Pemikiran Para Tokoh Pemikir Islam Pemateri III
14.30 – 15.30 FGD SC
15.30 – 16.00 Sholat Ashar Imam of Training
16.00 – 17.30 Membedah Pemikiran dan Jejak Para Pendiri dan Tokoh Muhammadiyah Pemateri IV
17.30 – 19.30 Ishoma Imam Training
19.30 – 21.00 Revitalisasi Idiologi Gerakan Muhammadiyah Pemateri V
21.00 – 22.30 Psikologi dan Sosiologi Agama Pemateri VI
22.30 – 24.00 FGD SC
24.00 - … Istirahat tidur
Kamis, 21 Oktober 2010
Shalat Tahajud
Sholat Shubuh
Kuliah Shubuh Imam Training
05.30 – 07.00 Olah Raga OC
07.00 – 08.00 Keperluan pribadi dan makan
08.00 – 09.30 Transformasi Idiologi IMM Pemateri VII
09.30 – 11.30 Profil Kader IMM Pemateri VIII
11.30 – 12.00 Ice Breaking
12.00 – 13.00 Ishoma
13.00 – 14.30 Merumuskan kembali peran IMM dalam Kehidupan Ber-Islam, berMuhammadiyah dan Berbangsa Pemateri IX
14.30 – 15.30 FGD SC
15.30 – 16.00 Sholat Ashar
16.00 – 17.30 Perkembangan Idiologi Besar Dunia dan Pengaruhnya pada Kehidupan masyarakat dan Agama Pemateri X
17.30 – 19.30 Ishoma Imam Training
19.30 – 21.00 Sosiologi dan Antropologi Masyarakat Indonesia Pemateri XI
21.00- 22.30 Strategi Aksi Sosial dalam Masyarakat Pemateri XII
22.30 – 23.00 Refleksi
23.00 - .. Istirahat
Juma'at, 22 Oktober 2010
03.00 – 05.30 Shalat Tahajud
Sholat Shubuh
Kuliah Shubuh Imam Training
05.30 – 07.00 Olah Raga
07.00 – 08.00 Keperluan pribadi dan makan
08.00 – 09.30 Teknik Pembangunan Jaringan (Network Developing Technique) Pemateri XIII
09.30 – 11.30 Game
11.30 – 12.00 Psikologi dan Teknik Kepemimpinan Pemateri XIV
12.00 – 13.00 Penugasan SC
13.00 – 14.30 Ishoma OC
14.30 – 15.30 Studi Kawasan Instruktur, SC, OC
15.30 – 16.00 Sholat Ashar Imam of Training
16.00 – 17.30 Presentasi dan Diskusi SC
17.30 – 19.30 Ishoma OC
19.30 – 22.00 Transendensi Journey Season SC
22.00 – 01.00 Sidang Kelulusan SC
Ahad, 24 Oktober 2010
08.00 – 09.00 Pengumuman Kelulusan
Pemberian Sertifikat
Kontrak Komitmen SC
09.00 – 10.00 Penutupan OC
11.00 - .. Good Bye
Langganan:
Postingan (Atom)